Periskop.id - India dan China masih menjadi dua pasar terbesar bagi ekspor batu bara Indonesia pada Januari hingga Mei 2026. 

Berdasarkan data ekspor impor Badan Pusat Statistik (BPS) untuk komoditas batu bara dengan kode HS 2701, India menempati posisi pertama dengan volume 36,80 juta ton. China berada di posisi kedua dengan 23,52 juta ton.

Dominasi dua negara ini tidak terlalu mengejutkan. India dan China sama-sama memiliki kebutuhan energi besar, populasi raksasa, basis industri luas, serta sistem kelistrikan yang masih sangat bergantung pada batu bara. Meski keduanya terus memperbesar porsi energi terbarukan, batu bara tetap menjadi penyangga utama pasokan listrik dan kegiatan industri.

Bagi Indonesia, pola ini menunjukkan bahwa pasar batu bara nasional masih sangat dipengaruhi oleh dinamika energi Asia. Ketika permintaan listrik, aktivitas industri, cuaca ekstrem, atau kebijakan impor di India dan China berubah, dampaknya dapat langsung terasa pada kinerja ekspor batu bara Indonesia.

Daftar 10 Negara Tujuan Ekspor Batu Bara Indonesia

Berdasarkan data ekspor impor BPS untuk periode Januari hingga Mei 2026, India menjadi tujuan utama ekspor batu bara Indonesia. Total volumenya mencapai 36,80 juta ton. China menyusul di posisi kedua dengan 23,52 juta ton.

Setelah dua negara tersebut, pasar terbesar berikutnya berasal dari Asia Tenggara dan Asia Timur. Filipina berada di posisi ketiga, disusul Vietnam, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, Bangladesh, Thailand, dan Taiwan.

Data ini memperlihatkan bahwa hampir seluruh pasar utama batu bara Indonesia berada di kawasan Asia. Artinya, ekspor batu bara Indonesia masih ditopang oleh negara negara yang membutuhkan pasokan energi besar untuk listrik, industri, dan kebutuhan ekonomi domestik.

Adapun, berikut rincian volume ekspor batu bara RI untuk 10 negara tujuan utama:

PeringkatNegaraVolume Ekspor
1India36,80 juta ton
2China23,52 juta ton
3Filipina15,68 juta ton
4Vietnam14,04 juta ton
5Malaysia9,81 juta ton
6Korea Selatan9,50 juta ton
7Jepang9,31 juta ton
8Bangladesh7,45 juta ton
9Thailand6,11 juta ton
10Taiwan4,73 juta ton

Kenapa India Jadi Tujuan Ekspor Terbesar?

India menjadi pasar terbesar karena kebutuhan energinya terus tumbuh. Negara ini memiliki populasi besar, industrialisasi yang terus berjalan, serta kebutuhan listrik yang meningkat. 

Pada Juli 2026, Menteri Kelistrikan India Manohar Lal memperkirakan puncak permintaan listrik India dapat mencapai sekitar 300 gigawatt pada tahun berikutnya, naik dari rekor puncak saat ini sekitar 271 gigawatt. Kenaikan itu didorong oleh pusat data, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, serta pertumbuhan kebutuhan energi secara umum.

Di sisi lain, India memang sedang berusaha menurunkan ketergantungan terhadap batu bara impor. Reuters melaporkan impor batu bara termal India pada Januari hingga Mei 2026 turun ke level terendah dalam empat tahun karena peningkatan produksi domestik dan naiknya pembangkit energi terbarukan. 

Namun, total impor batu bara termal India pada periode tersebut tetap mencapai 65 juta ton. Ini menunjukkan bahwa meski impor turun, kebutuhan India terhadap batu bara dari luar negeri belum hilang.

Indonesia tetap punya posisi penting karena batu bara Indonesia relatif dekat secara geografis, memiliki jalur logistik laut yang mapan, dan selama ini menjadi salah satu pemasok utama bagi pasar Asia. Untuk pembangkit listrik dan industri yang masih membutuhkan pasokan besar dalam waktu cepat, kedekatan Indonesia menjadi keuntungan.

Kenapa China Masih Jadi Pembeli Besar?

China menjadi pembeli terbesar kedua karena skala konsumsi energinya sangat besar. Negara ini masih menjadi salah satu pusat manufaktur dunia, memiliki kebutuhan listrik tinggi, dan tetap memakai batu bara sebagai komponen utama bauran energinya.

Badan Energi Internasional atau IEA mencatat perkembangan China akan sangat menentukan tren batu bara global. Dalam Coal Mid Year Update 2025, IEA memperkirakan permintaan batu bara China sempat turun tipis pada 2025, tetapi kembali pulih pada 2026 dan mendekati 5 miliar ton. 

Angka ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan batu bara China, bahkan ketika negara itu juga menjadi pemimpin global dalam pembangunan energi terbarukan.

China memang sempat mencatat penurunan impor pada sebagian periode 2026. Reuters melaporkan impor batu bara China pada Mei 2026 turun 8% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 33,27 juta ton. Namun, angka bulanan sebesar itu tetap sangat besar dalam ukuran perdagangan global.

Selain itu, faktor musiman juga memengaruhi impor China. Impor batu bara termal Negeri Tirai Bambu untuk Juni 2026 diperkirakan naik 27,6% secara tahunan menjadi 27,8 juta ton untuk memenuhi kenaikan permintaan musiman. 

Ini menunjukkan bahwa kebutuhan China dapat naik kembali ketika konsumsi listrik meningkat, misalnya saat musim panas atau ketika produksi industri menguat.