iklan periskop
Ekonomi

BPS: Penduduk Miskin RI Turun Jadi 22,93 Juta pada Maret 2026

BPS mencatat penurunan jumlah penduduk miskin, tapi kesenjangan tingkat kemiskinan antara kota dan desa masih cukup lebar.

1 minggu yang lalu · 2 mnt baca
Konsumsi Domestik dan Investasi Topang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,12%
Suasana pemukiman penduduk dan gedung bertingkat di kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (22/4/2025). Foto oleh Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia turun menjadi 22,93 juta orang pada Maret 2026. Angka ini berkurang 430 ribu orang dibandingkan kondisi September 2025.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud memaparkan, tingkat kemiskinan nasional kini berada di angka 8,07%. Persentase tersebut turun 0,18 poin dibandingkan periode sebelumnya.

"Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 22,93 juta orang atau turun sebanyak 0,43 juta orang dibandingkan dengan bulan September 2025," ujar Edy dalam konferensi pers, Selasa (5/8).

Meski tren kemiskinan nasional membaik, BPS mencatat kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan masih cukup lebar. Kondisi ini terlihat dari selisih penurunan tingkat kemiskinan di dua wilayah tersebut.

Tingkat kemiskinan di perkotaan tercatat turun menjadi 6,34%, atau berkurang 0,26 poin dibandingkan September 2025.

Sementara itu, tingkat kemiskinan di perdesaan mencapai 10,67%. Penurunannya jauh lebih tipis, hanya 0,05 poin dibandingkan periode sebelumnya.

Edy menjelaskan, kualitas pengentasan kemiskinan juga menunjukkan arah berbeda antara kota dan desa. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di perkotaan menurun, yang berarti rata-rata pengeluaran penduduk miskin makin mendekati garis kemiskinan.

Sebaliknya, indeks tersebut justru naik di perdesaan. Menurut Edy, ini menandakan jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan di desa malah semakin melebar.

Pola serupa terjadi pada Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Di perkotaan, indeks ini menurun dan menunjukkan distribusi pengeluaran antarpenduduk miskin makin merata, sementara di perdesaan indeks tersebut meningkat dan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran antarpenduduk miskin justru makin besar.

Secara spasial, hampir seluruh wilayah Indonesia mencatat penurunan tingkat kemiskinan. Penurunan terdalam terjadi di Pulau Jawa, yakni sebesar 0,21 poin.

Kendati begitu, Pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia. BPS mencatat ada 12,02 juta penduduk miskin di Jawa, atau sekitar 52,42% dari total penduduk miskin nasional. Kondisi berbeda terlihat di Pulau Kalimantan yang justru mencatat jumlah penduduk miskin paling sedikit, sekitar 870 ribu orang atau setara 3,79% dari total penduduk miskin nasional.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk miskin, dan masyarakat miskin dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.