Periskop.id - Bank Mandiri mencatat tingkat tabungan masyarakat Indonesia melemah pada Juni 2026. Mandiri Saving Index terkontraksi 5,7% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 84,8, bersamaan dengan lonjakan belanja yang dibiayai utang seperti pinjaman online, kartu kredit, dan paylater.

Daily Economic and Market Office of Chief Economist Bank Mandiri mencatat kondisi ini berbanding terbalik dengan tren belanja masyarakat. Mandiri Spending Index yang mencakup pinjaman online (P2P lending), kartu kredit, dan paylater perusahaan pembiayaan non-bank justru tumbuh 24,6% yoy menjadi 157,7 pada periode yang sama.

"Hal ini menunjukkan belanja masih tumbuh positif meskipun tingkat tabungan melemah," tulis laporan Daily Economic and Market Office of Chief Economist Bank Mandiri dikutip Jumat (7/8).

Laporan tersebut menambahkan, penggunaan pembiayaan meningkat seiring pergeseran pola belanja masyarakat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia menunjukkan total outstanding pinjaman online, kartu kredit, dan paylater non-bank mencapai Rp160,7 triliun pada Mei 2026.

Dari jumlah tersebut, pinjaman online mendominasi dengan nilai Rp103,7 triliun atau sekitar 65% dari total pembiayaan. Kartu kredit menyumbang Rp43,8 triliun (27%), sementara paylater tercatat Rp13,2 triliun (8%).

Meski porsinya paling kecil, paylater justru mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 53,6% yoy. Pinjaman online tumbuh 25,7% yoy, disusul kartu kredit 15,6% yoy.

Pergeseran pola pinjaman juga terlihat dari tujuan penggunaannya. Porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif naik jadi 86% pada April 2026, dari sebelumnya 78% pada April 2025 dan 68% pada April 2024.

"Pergeseran ini menunjukkan kenaikan pinjaman lebih banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga, sementara permintaan pembiayaan untuk aktivitas usaha menjadi lebih terbatas," tulis laporan itu. Porsi pinjaman untuk kegiatan produktif kini tinggal 14%.

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menanggapi temuan tersebut dengan menyebut tren buy now pay later (BNPL) di masyarakat masih tergolong wajar. Menurutnya, skema itu tak jauh berbeda dari fasilitas cicilan kartu kredit yang selama ini mendongkrak penjualan ritel.

"Nah, di Hippindo ini kan ada kartu kredit. Kalau lagi ada promo 0%, ya itu ramai penjualan kami. Konsumen beli barang elektronik jarang yang mau cash langsung. Jadi sebenarnya paylater tuh mirip itulah," kata Budihardjo saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (6/8).

Ia menambahkan, Hippindo akan tetap mempromosikan produk pembiayaan baru selama menawarkan skema bunga 0%. Budihardjo menegaskan tren paylater berbeda dari judi online yang dinilainya benar-benar bermasalah.

Senada, Sekretaris Jenderal Hippindo Haryanto Pratantara menilai skema cicilan termasuk paylater justru membantu mendorong konsumsi masyarakat karena memberi fleksibilitas berbelanja.

"Malah itu membantu meningkatkan konsumsi kan, karena orang bisa belanja dengan cicilan, atau dengan skala yang lebih kecil ketimbang langsung bayar di muka," kata Haryanto menambahkan.

Meski begitu, Budihardjo mengaku belum mencermati kondisi tabungan masyarakat yang belakangan disebut melemah. Ia berharap pemerintah segera menggulirkan stimulus untuk mendorong daya beli.

"Nah, itu saya belum cek ya kalau tabungan. Memang saat ini kita harapkan stimulus segera diturunkan agar daya beli naik, ya itu kita harapkan segera," ucap Budihardjo.