periskop.id - Harga emas turun pada Kamis (waktu AS) setelah sempat menyentuh rekor tertinggi, seiring aksi ambil untung oleh investor. Meski demikian, harga emas masih berada di jalur untuk mencatatkan bulan terbaik sejak 1980-an di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Melansir Reuters, Jumat (30/1), harga emas spot melemah 1,3% menjadi US$5.330,20 per ons pada pukul 13.30 waktu setempat (01.30 WIB Jumat).
Logam mulia ini berbalik arah, jatuh lebih dari 5% ke level terendah sesi di US$5.109,62, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor US$5.594,82. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,3% di US$5.318,40.
“Kami melihat aksi jual besar-besaran setelah logam mulia mencetak rekor tertinggi terbaru,” ujar David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures.
Meski turun, harga emas spot masih naik sekitar 24% sepanjang bulan ini dan 7% sepanjang pekan. UBS pada Kamis menaikkan proyeksi harga emas menjadi US$6.200 untuk tiga kuartal pertama tahun ini, sebelum diperkirakan turun ke US$5.900 pada akhir 2026.
Permintaan emas semakin meluas, mulai dari pasar kripto hingga bank sentral. “Logam mulia sedang menjadi sorotan, dan investor selalu mencari tempat dengan potensi imbal hasil tinggi,” kata Brian Lan, Managing Director GoldSilver Central.
Ketidakpastian geopolitik turut menambah tekanan. Presiden AS Donald Trump pada Rabu mendesak Iran untuk bernegosiasi terkait kesepakatan nuklir, sementara Teheran mengancam akan melakukan balasan terhadap AS, Israel, dan sekutunya.
Di hari yang sama, CEO Tether mengumumkan rencana mengalokasikan 10%-15% portofolio investasi ke emas fisik. Sementara itu, SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, mencatat kepemilikan tertinggi dalam hampir 4 tahun terakhir.
Federal Reserve AS pada Rabu mempertahankan suku bunga, sementara pasar menunggu pengumuman Trump terkait pengganti Ketua The Fed Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei. Pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga berikutnya akan dilakukan pada Juni.
Selain emas, harga perak spot turun 2,1% menjadi US$114,141 per ons setelah sempat menyentuh US$121,64. Sepanjang bulan ini, perak sudah melonjak lebih dari 60%, didorong defisit pasokan dan aksi beli momentum.
Pasar perak, platinum, dan paladium relatif kecil dibanding emas maupun indeks S&P 500, sehingga rentan terhadap aliran spekulatif.
“Harga sudah benar-benar terlepas dari kondisi permintaan fisik yang sebenarnya,” ujar Guy Wolf, Kepala Global Market Analytics Marex.
Platinum spot turun 3,2% ke US$2.602,85 per ons, setelah sempat mencetak rekor US$2.918,80 pada Senin. Paladium juga melemah 3,7% ke US$1.996,65.
Tinggalkan Komentar
Komentar