periskop.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempertimbangkan berbagai alternatif kebijakan demi menekan angka konsumsi bahan bakar minyak nasional. Langkah antisipatif pemerintah ini merespons eskalasi krisis energi global beserta usulan penerapan skema bekerja dari rumah (work from home) layaknya di negara tetangga.

Menjawab pertanyaan terkait kemungkinan adopsi kebijakan penghematan energi ala Filipina dan Vietnam saat keterangan pers di Jakarta, Kamis (12/3), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan. "Di kita, lagi sedang kita melakukan eksersis semua alternatif-alternatif yang akan kita pakai untuk kebaikan negara kita sekaligus untuk mendorong efisiensi pemakaian bahan bakar ya," katanya.

Pemerintah sejauh ini belum mengetuk palu keputusan resmi terkait skema spesifik pembatasan mobilitas masyarakat tersebut. Jajaran otoritas energi masih berhati-hati menimbang beragam skenario terbaik.

"Tapi belum ada keputusan yang pasti karena semua alternatif dalam kondisi yang tidak stabil begini harus kita mencari berbagai alternatif-alternatif," tambahnya.

Ketidakstabilan kondisi geopolitik akibat eskalasi perang memberikan dampak langsung pada sektor energi domestik. Harga minyak mentah dunia terus berfluktuasi tajam menyentuh level mengkhawatirkan.

Lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) mulai terasa cukup tinggi memasuki bulan Maret. Harga komoditas energi global bahkan sempat menembus angka sangat fantastis mencapai 112 dolar Amerika Serikat per barel.

Ancaman memburuknya situasi kawasan perairan Selat Hormuz turut memaksa Indonesia memutar otak. Negara segera mencari alternatif pasokan minyak mentah demi mengakhiri ketergantungan impor dari kawasan Timur Tengah.

Kementerian ESDM memutuskan pengalihan target utama negara pemasok minyak mentah masa depan. Indonesia bersiap mendatangkan pasokan energi cair langsung dari Amerika Serikat, Nigeria, Brasil, hingga Australia.

Di tengah gejolak internasional ini, masyarakat luas mendapat imbauan untuk tetap tenang menyikapi dinamika pasar. Kondisi cadangan bahan bakar nasional dalam negeri saat ini masih tergolong sangat aman.

"Kemarin kan saya sudah ngomong beberapa kali di media stok kita itu dalam kondisi yang aman, 23 hari," tegasnya merespons fenomena kepanikan pembeli di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.

Cadangan pasokan energi selama hampir empat pekan tersebut murni berasal dari perhitungan ketersediaan siap pakai di dalam tangki penyimpanan. Durasi ketahanan energi ini otomatis terus bertambah seiring berjalannya proses produksi secara maraton.

Pemerintah juga bergegas mempensiunkan operasional pembangkit listrik bertenaga solar demi menekan konsumsi energi fosil secara masif. Satuan Tugas EBTKE segera mengeksekusi transisi menuju tenaga surya dan panas bumi usai masa libur hari raya.