periskop.id - Harga minyak mentah dunia diperkirakan masih berpotensi mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Pergerakan ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan harga minyak mentah saat ini berada di kisaran tertentu setelah perdagangan terakhir. Kondisi tersebut menurutnya masih membuka ruang pergerakan harga dalam jangka pendek.

“Crude oil itu ditutup di Rp97.315 per barrel,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (16/3).

Ia menjelaskan bahwa apabila harga minyak mengalami koreksi, terdapat sejumlah level support yang menjadi perhatian pelaku pasar. Level ini diperkirakan dapat menahan penurunan harga dalam jangka pendek.

“Kalau seandainya terkoreksi, di support pertamanya Rp93.745 per barrel,” ujarnya.

Selain itu, terdapat level support berikutnya apabila tekanan penurunan harga terus berlanjut. Kondisi ini dapat terjadi jika sentimen pasar global berubah.

“Kemudian kalau seandainya koreksi, di support kedua itu di Rp89.555 per barrel,” kata Ibrahim.

Di sisi lain, jika harga minyak mengalami penguatan maka terdapat sejumlah level resisten yang diperkirakan akan diuji pasar. Kenaikan tersebut berpotensi terjadi terutama ketika ketegangan geopolitik meningkat.

“Apabila menguat, resisten pertama itu adalah di US$100.553 per barrel,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kenaikan lanjutan masih berpeluang terjadi apabila tekanan geopolitik terus meningkat. Dalam kondisi tersebut, harga minyak dapat menguji level resisten berikutnya.

“Apabila naik lagi, resisten kedua yaitu di US$105.135 per barrel,” kata Ibrahim.

Menurutnya, ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga minyak global. Jalur tersebut merupakan rute penting distribusi energi dunia.

“Penutupan Selat Hormuz ini sangat vital sekali, sangat berpengaruh sekali terhadap kenaikan harga minyak mentah,” ujarnya.

Ibrahim juga menyoroti pergerakan minyak jenis Brent yang sudah mendekati level tertentu dalam perdagangan terakhir. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.

“Saya melihat bahwa ada kemungkinan besar crude oil ini masih akan terus mengalami kenaikan, apalagi Brent crude oil itu sudah mencapai di level 99,” katanya.

Ia menambahkan, dalam kondisi tertentu harga minyak bahkan berpotensi bergerak lebih tinggi. Namun realisasi pergerakan tersebut tetap bergantung pada perkembangan geopolitik global

“Kemungkinan besar ekspektasinya itu adalah di 120,” ujar Ibrahim.