periskop.id - Imbas dari kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran membuat harga minyak dunia mengalami penurunan yang cukup tajam. Keputusan tersebut memicu aksi jual besar-besaran pada kontrak minyak mentah, seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak dunia, seperti West Texas Intermediate (WTI) dan Brent, sempat turun hingga berada di bawah US$100 per barel. Penurunan ini dipengaruhi oleh kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali jalur Selat Hormuz dan jaminan keamanan di wilayah tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meredanya eskalasi konflik di Timur Tengah dapat berdampak langsung pada perekonomian dunia, khususnya sektor energi.

Harga Minyak WTI dan Brent Turun Tajam

Penurunan eskalasi konflik di Timur Tengah langsung direspons cepat oleh pelaku pasar. Harga minyak dunia dilaporkan sempat merosot hingga 16% setelah adanya pernyataan resmi dari Donald Trump terkait gencatan senjata yang disampaikan melalui media sosial Truth Social.

Berdasarkan data pasar pada Rabu (8/4/2026), harga minyak mentah jenis WTI sempat berada di kisaran US$95 per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent yang biasa dijadikan sebagai acuan global tercatat berada di sekitar US$94 per barel.

Pergerakan harga yang terlihat positif ini mencerminkan rasa lega dari para investor atas meredanya konflik di kawasan Timur Tengah yang sebelumnya sempat menciptakan kekhawatiran terhadap ancaman kerusakan infrastruktur energi vital dan rantai pasok global.

Harga Minyak Kembali Naik

Meski sempat mengalami penurunan signifikan, kekhawatiran terhadap pasokan energi di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Ketidakpastian terkait keberlangsungan gencatan senjata antara AS dan Iran masih membayangi pasar, ditambah masih terbatasnya akses pelayaran di Selat Hormuz.

Hal ini terlihat dari kembali naiknya harga minyak dunia pada Kamis (9/4/2026) pukul 11.10 WIB. Berdasarkan data statistik Trading Economics, harga minyak Brent naik menjadi US$96 per barel, sedangkan WTI meningkat ke level US$97 per barel.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa kesepakatan gencatan senjata belum sepenuhnya memberikan stabilitas pada pasar global. Investor masih menunggu kepastian lebih lanjut sebelum merespons secara penuh.

Pentingnya Jalur Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan strategis yang menjadi penghubung utama distribusi minyak dari negara-negara Teluk, seperti Irak, Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar ke pasar global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini.

Namun, ketidakpastian terkait implementasi gencatan senjata dan jaminan keamanan di kawasan tersebut membuat pergerakan harga minyak masih fluktuatif. Pelaku industri pelayaran pun masih menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum kembali melintasi jalur vital tersebut.