periskop.id - Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer Gerungan alias Noel, menyampaikan nota pembelaan (pleidoi) pribadi dengan penuh penyesalan di ruang persidangan. Noel secara terbuka mengakui kesalahannya sebagai mantan pejabat publik dan menyebut perkara hukum yang menjeratnya saat ini meruntuhkan nama baiknya dalam sekejap.
Dalam persidangan tersebut, Noel menegaskan bahwa pleidoi ini bukanlah pembelaan hukum teknis yuridis, melainkan murni suara pribadinya sebagai manusia yang tengah berada di titik terberat dalam hidup. Bahkan, ia langsung membuka pembelaannya dengan pernyataan pengakuan dosa secara lugas tanpa berbelit-belit.
“Saya salah. Saya mengakui salah. Saya menyesal,” tegas Noel saat membacakan pleidoi pribadinya di Pengadilan Tipikor PN Jakarta Pusat, Senin (25/5).
Noel mengungkapkan penyesalannya muncul karena ia merasa gagal menjaga amanah jabatan dengan penuh kehati-hatian. Ia mengaku kurang waspada terhadap ruang komunikasi, relasi, serta lingkungan jabatan yang berpotensi menimbulkan persoalan hukum hingga melukai kepercayaan masyarakat.
Kendati demikian, Noel menyatakan tidak akan membela diri atas kesalahannya, merendahkan hukum, ataupun menyerang pihak-pihak tertentu dalam persidangan ini.
“Saya tidak akan membenarkan kesalahan saya. Saya tidak akan merendahkan proses hukum. Saya juga tidak akan menyerang siapa pun. Hari ini, saya hanya ingin menyampaikan perjalanan hidup saya, nilai yang membentuk saya, kerja yang pernah saya lakukan, penyesalan yang saya rasakan, serta permohonan agar Yang Mulia berkenan mempertimbangkan diri saya sebagai manusia secara utuh,” ujar Noel.
Lebih lanjut, Noel menggambarkan betapa beratnya dampak dari kasus korupsi ini terhadap kehidupan sosial dan orang-orang di sekitarnya. Ia merasa terpukul melihat keluarganya ikut menanggung rasa malu akibat perbuatannya.
“Perkara ini menjadi pukulan yang sangat besar dalam hidup saya. Saya merasakan bagaimana nama baik yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh dalam sekejap. Saya melihat keluarga saya ikut menanggung malu. Saya melihat orang-orang yang pernah percaya kepada saya menjadi kecewa,” tutur Noel.
Selain beban moral kepada keluarga, Noel juga menyoroti batinnya yang teriris saat membayangkan nasib para buruh yang selama ini menggantungkan harapan dan perlindungan kepadanya.
Bagi Noel, esensi dari sebuah jabatan publik bukan sekadar mengenai kewenangan dan protokoler, melainkan tanggung jawab moral atas kepercayaan mahal yang dititipkan rakyat. Ketika kepercayaan itu telah terluka, ia menilai seorang pejabat tidak bisa lagi berdalih hanya dengan menjelaskan niat baiknya saja.
“Kepercayaan rakyat adalah sesuatu yang mahal. Ketika kepercayaan itu terluka, seorang pejabat tidak cukup hanya menjelaskan niatnya. Ia harus berani melihat dirinya sendiri, merendahkan hati, dan mengakui bahwa ada tanggung jawab moral yang gagal dijaga dengan baik. Itulah yang saya rasakan hari ini,” tuturnya.
Noel memastikan bahwa segala pengakuan bersalah yang ia lontarkan di hadapan Majelis Hakim bukanlah sekadar pemanis sidang atau kalimat kosong belaka. Penyesalan tersebut diklaim lahir dari kesadaran murni untuk mengubah cara memandang hidup serta menjadi langkah awal memperbaiki dirinya di masa depan.
“Saya menyampaikan pengakuan ini bukan sekadar kalimat kosong. Saya menyadari bahwa penyesalan yang benar tidak berhenti pada ucapan. Ia harus menjadi kesadaran yang merendahkan hati, mengubah cara memandang hidup, dan membuka jalan untuk memperbaiki diri,” ungkap Noel.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar