periskop.id - Harga Bitcoin naik ke level tertinggi dalam tiga minggu terakhir seiring meningkatnya optimisme pasar global setelah adanya rencana gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Melansir Yahoo Finance, Kamis (9/4), kripto terbesar ini sempat melonjak hingga 5% ke level US$72.841 dalam perdagangan di New York, yang merupakan posisi tertinggi sejak 18 Maret, sebelum akhirnya sedikit terkoreksi. Kenaikan juga terjadi pada kripto lain, dengan Ether naik hingga 7,5% ke US$2.273.
Sentimen positif ini juga mendorong pasar saham menguat, sementara harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), turun di bawah US$95. Penurunan ini mendekati level terbesar dalam enam tahun terakhir, setelah Presiden AS Donald Trump menghentikan sementara serangan ke Iran pada Selasa.
Bitcoin ikut menguat sejalan dengan aset berisiko lainnya karena investor merasa lebih tenang dengan meredanya konflik di Timur Tengah. Harapan pun muncul bahwa jalur penting pengiriman minyak di Selat Hormuz bisa kembali dibuka.
Namun, analis dari 21Shares, Matt Mena, mengingatkan bahwa jika gencatan senjata gagal bertahan, harga Bitcoin berpotensi turun kembali ke sekitar US$66.000.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, pasar keuangan cenderung bergejolak. Investor khawatir gangguan distribusi minyak dapat memicu inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi. Dalam periode tersebut, Bitcoin bergerak di kisaran US$60.000 hingga US$75.000, dan saat ini masih turun lebih dari 40% dari rekor tertingginya di atas US$126.000 pada Oktober lalu.
Kenaikan harga Bitcoin juga membuat banyak trader yang sebelumnya bertaruh harga akan turun mengalami kerugian. Menurut Tesseract Group, pergerakan mendekati US$72.000 menekan banyak posisi “short”. Jika harga menembus US$73.500, Bitcoin berpotensi melanjutkan kenaikan hingga mendekati US$80.000.
Data CoinGlass menunjukkan lebih dari US$250 juta posisi short telah dilikuidasi dalam 24 jam terakhir, dan jumlah ini terus bertambah seiring kenaikan harga Bitcoin.
Meski demikian, laporan dari Glassnode menyebut aktivitas pembelian di pasar spot masih relatif lemah. Artinya, kenaikan harga saat ini masih rentan dan belum didukung permintaan yang kuat.
Di sisi lain, dana investasi berbasis Bitcoin (ETF spot) di AS mulai menunjukkan arus masuk dana. Pada Senin, tercatat inflow sebesar US$471,3 juta, meningkat dari US$22,3 juta pada pekan sebelumnya, setelah sebelumnya sempat mengalami arus keluar hampir US$300 juta.
Sepanjang Maret, total dana masuk ke ETF Bitcoin mencapai sekitar US$1,3 miliar, menandakan mulai adanya stabilisasi setelah empat bulan berturut-turut mengalami arus keluar sejak November 2025.
Meski begitu, Glassnode menilai kondisi ini masih tahap awal pemulihan. Jika aliran dana terus meningkat, hal tersebut dapat menjadi penopang yang lebih kuat bagi harga Bitcoin ke depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar