Periskop.id - Gosip sering kali dianggap sebagai bumbu penyedap di lingkungan kerja. Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Public Health pada 2022 mengungkapkan bahwa aktivitas "ngrumpi" ini memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental karyawan, tergantung pada jenis obrolan yang dilemparkan.

Penelitian yang melibatkan 222 karyawan perusahaan pariwisata di Taiwan ini membedah fenomena gosip di tempat kerja melalui model psikologis yang mendalam. 

Para peneliti menemukan bahwa cara kita membicarakan rekan kerja bisa menjadi "pedang bermata dua" bagi kondisi jiwa kita sendiri.

Dampak Berbeda dari Dua Jenis Gosip

Studi ini membagi gosip menjadi dua kategori utama yang memberikan dampak sangat bertolak belakang bagi pelakunya. Pertama adalah gosip positif, yakni aktivitas membicarakan prestasi atau kebaikan rekan kerja yang ternyata mampu meningkatkan kesehatan mental si penggosip. 

Hal ini terjadi karena obrolan positif tersebut memperkuat modal psikologis (psychological capital), sebuah istilah medis untuk menggambarkan cadangan kekuatan mental seseorang yang terdiri dari rasa percaya diri, optimisme, harapan, dan ketangguhan.

Sebaliknya, kategori kedua adalah gosip negatif, di mana membicarakan keburukan atau upaya menjatuhkan rekan kerja justru terbukti merusak kesehatan mental pengirimnya. 

Alih-alih memberikan kepuasan, aktivitas ini secara perlahan menguras energi psikologis dan menciptakan lingkungan mental yang beracun bagi diri sendiri. 

Dengan kata lain, energi negatif yang dilemparkan kepada orang lain pada akhirnya akan kembali dan membebani kondisi psikologis si penggosip itu sendiri.

Peran "Pengalaman Kerja" sebagai Tameng

Menariknya, studi ini juga menyoroti peran pengalaman kerja pengembangan (developmental job experience). Istilah ini merujuk pada seberapa sering seorang karyawan diberikan tantangan baru, tugas sulit, atau kesempatan belajar di kantor.

Karyawan yang memiliki pengalaman kerja yang kaya dan menantang cenderung lebih "kebal" terhadap dampak buruk gosip. Mereka memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik untuk menyaring informasi. 

Jika mendengar gosip positif, mereka akan memanfaatkannya sebagai motivasi. Namun, jika terlibat dalam situasi gosip negatif, mereka cenderung memiliki mekanisme koping atau cara mengatasi masalah yang lebih kuat sehingga kesehatan mental mereka tidak mudah anjlok.

Jangan Larang Obrolan Santai (Bergosip)

Berdasarkan temuan ini, para peneliti menyarankan agar perusahaan tidak perlu melarang total obrolan santai antar karyawan, karena hal itu mustahil dilakukan. Sebaliknya, manajer didorong untuk mengarahkan budaya kantor ke arah yang lebih positif.

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti mengusulkan beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan oleh perusahaan untuk menjaga iklim kerja tetap sehat. Salah satunya adalah dengan memberikan pujian di depan publik, misalnya dengan mengumumkan prestasi karyawan di papan buletin agar hal tersebut menjadi topik obrolan yang positif dan inspiratif bagi rekan kerja lainnya.

Selain itu, manajer disarankan untuk memberikan tantangan baru melalui tugas-tugas yang menantang. Hal ini bertujuan agar karyawan lebih fokus pada pengembangan diri (developmental experience) dan peningkatan keterampilan, sehingga energi mereka terserap untuk hal-hal produktif ketimbang habis untuk membicarakan gosip negatif. 

Terakhir, penting bagi organisasi untuk memberikan edukasi mengenai kesehatan mental, guna menyadarkan setiap individu bahwa membicarakan keburukan orang lain sebenarnya secara perlahan sedang "meracuni" dan merusak kesehatan mental mereka sendiri.

Singkatnya, apa yang kita bicarakan di jam istirahat kantor bukan sekadar angin lalu. Obrolan tersebut adalah cerminan dari kesehatan mental kita. Dengan memilih untuk membicarakan hal-hal baik, kita sebenarnya sedang membangun benteng kekuatan untuk jiwa kita sendiri di tempat kerja.