Periskop.id - Dunia sedang menyaksikan perubahan besar dalam cara kita memandang energi. Melansir dari Clean Technica, gagasan psikolog Abraham Maslow tahun 1943 tentang Hierarki Kebutuhan manusia kini menemukan relevansi baru yang mengejutkan di tengah krisis bahan bakar fosil global.
Jika dahulu mengendarai mobil listrik dianggap sebagai simbol status atau pencitraan moral, kini akses terhadap energi bersih telah bergeser menjadi kebutuhan dasar yang setara dengan keamanan fisik.
Untuk memahami pergeseran ini, kita perlu melihat kembali struktur segitiga atau piramida yang digagas Maslow. Hierarki ini mendefinisikan aktivitas manusia ke dalam enam tingkat:
- Kebutuhan Dasar: Mencakup hal fundamental seperti bernapas, makanan, air, tempat tinggal, pakaian, dan tidur.
- Kebutuhan Keamanan: Perasaan aman secara fisik, psikologis, kesehatan, serta kepastian memiliki sumber daya dan uang untuk bertahan hidup.
- Kebutuhan Sosial: Rasa cinta, keterikatan, dan menjadi bagian dari masyarakat.
- Harga Diri: Kepercayaan diri, rasa hormat terhadap diri sendiri, dan perasaan dihargai.
- Aktualisasi Diri: Peluang untuk menggunakan bakat dan berkembang sesuai potensi maksimal.
- Transendensi: Fokus pada spiritualitas dan memberi manfaat pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Krisis Energi: Dari Makro hingga ke Meja Makan
Laporan dari Financial Times memberikan gambaran suram mengenai bagaimana kelangkaan bahan bakar menghantam ekonomi dunia secara makro.
Harga yang melambung memaksa konsumen mengerem belanja, dunia usaha memangkas investasi, dan pemerintah menghemat sumber daya. Dampaknya adalah stagnasi ekonomi yang berujung pada resesi.
Namun, di tingkat mikro, situasinya jauh lebih memprihatinkan. Di Thailand, para petani kini kesulitan mendapatkan solar untuk menjalankan pompa irigasi sawah. Bahkan, jenazah menumpuk di kuil-kuil karena kurangnya bahan bakar untuk mengoperasikan krematorium.
Sementara itu, World Food Programme memperingatkan bahwa biaya produksi pangan di Myanmar bisa meningkat dua kali lipat akibat lonjakan harga pupuk yang merupakan turunan produk energi.
Katalis Konflik: Mengapa Fosil Menjadi Sangat Rentan?
Ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil mencapai titik nadir keamanannya akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel telah menciptakan guncangan hebat pada rantai pasok energi global.
Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz, jalur air paling krusial untuk distribusi minyak dan gas dunia, membuat pasokan energi tidak lagi dapat diprediksi.
Situasi perang ini membuktikan bahwa keamanan energi yang berbasis pada fosil sangat rapuh terhadap ketidakstabilan mental penguasa atau konflik senjata.
Hal ini mengubah kalkulasi masyarakat internasional, di mana energi yang bersumber dari wilayah konflik kini dianggap sebagai ancaman bagi "keamanan" di tingkat kedua Maslow, bukan lagi penopang kehidupan.
Pergeseran Peran Energi Terbarukan
Dalam tulisan terbarunya di Substack, aktivis lingkungan Bill McKibben menyoroti bagaimana gangguan pasokan minyak dan LNG ini mengubah cara pandang masyarakat.
Dahulu, energi surya, angin, dan hidro dipandang sebagai sesuatu yang "bagus untuk dimiliki" (nice to have), yang dalam kerangka Maslow berada di tingkat ketiga atau keempat.
Sebaliknya, bahan bakar fosil selama berdekade-dekade menempati tingkat kedua karena dianggap sebagai penjamin keamanan dasar.
Namun, ketika pasokan minyak tidak lagi dapat diandalkan dan harganya jauh lebih mahal daripada energi surya, perhitungannya berubah total. Energi terbarukan kini menjadi pilihan yang lebih ekonomis dan stabil untuk memenuhi kebutuhan tingkat kedua.
Daya tarik harga yang lebih murah dari energi bersih menjadi alasan yang sangat logis untuk menjaga "dompet" tetap aman.
Ambang Perubahan Besar
Situasi ini seolah mengulang sejarah embargo OPEC tahun 1970-an, namun kali ini dengan urgensi yang lebih permanen. Kita tidak lagi perlu membenarkan kebijakan ramah iklim dengan alasan moral di tingkat keempat.
Masyarakat dunia mulai menilai ulang kebutuhan mereka karena dipaksa oleh keadaan geopolitik yang memanas.
Banyak yang mulai menyadari bahwa energi terbarukan mampu memenuhi kebutuhan dasar dengan lebih baik dan stabil dibandingkan bahan bakar fosil yang rentan terhadap konflik antara Iran, AS, dan Israel.
Perusahaan bahan bakar fosil kini menghadapi konsekuensi dari pilihan mereka, seolah menanam benih kehancuran mereka sendiri di tengah dunia yang mulai beralih demi kelangsungan hidup.
Tinggalkan Komentar
Komentar