periskop.id - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya semakin menegaskan perannya dalam pengembangan energi berkelanjutan untuk mendukung ketahanan energi nasional. Langkah ini menjadi krusial di tengah keterbatasan cadangan bahan bakar minyak (BBM) akibat dinamika krisis global yang menekan pasokan energi dunia.
“Ketahanan energi perlu didukung teknologi berbasis potensi lokal,” ujar Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, Senin (6/4) dikutip dari Antara.
Menurutnya, ketahanan energi tidak hanya bergantung pada cadangan, tetapi juga pada kemampuan bangsa mengembangkan sumber energi alternatif dan mempercepat transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT).
ITS telah melahirkan sejumlah inovasi, salah satunya Benwit, teknologi konversi crude palm oil (CPO) menjadi bensin biogasolin. Inovasi ini memanfaatkan potensi domestik kelapa sawit untuk mendukung kemandirian energi nasional. Riset serupa juga dilakukan di berbagai negara; misalnya, Thailand dan Malaysia yang mengembangkan biofuel berbasis sawit sebagai strategi diversifikasi energi.
Selain itu, ITS menghadirkan Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDI), laboratorium hidup energi terbarukan terbesar di Indonesia. REIDI mengintegrasikan berbagai sumber energi seperti photovoltaic, agrovoltaic, biomassa, dan hidrogen.
“REIDI dirancang untuk menjembatani riset dengan kebutuhan industri dan masyarakat,” jelas Taufany.
Laboratorium ini tidak hanya fokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga pengujian dan implementasi dalam skala nyata, sehingga hasil riset dapat langsung memberi dampak.
Pendekatan integratif juga diwujudkan melalui proyek Solar2Wave, yakni pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) apung nearshore pertama di Indonesia. Teknologi ini mendukung kemandirian energi wilayah pesisir yang selama ini menghadapi keterbatasan akses listrik.
Model PLTS apung serupa telah diterapkan di Jepang dan Singapura, terbukti mampu menekan emisi sekaligus meningkatkan kapasitas energi bersih.
“Diversifikasi energi diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” tegasnya.
Untuk mendukung implementasi, ITS juga mengembangkan Kawasan Sains Teknologi (KST) Otomotif atau Science Techno Park (STP) yang sejak 2022 melayani konversi kendaraan berbahan bakar bensin menjadi motor listrik berbasis baterai.
Dengan pendekatan riset yang terintegrasi, ITS berupaya memastikan transisi energi tidak berhenti pada konsep, melainkan benar-benar hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat dan industri.
Tinggalkan Komentar
Komentar