periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan perekonomian Indonesia tetap tangguh menghadapi lonjakan tekanan geopolitik global. Pemerintah terus mengeksekusi strategi penjagaan momentum pertumbuhan sekaligus menggenjot nilai investasi nasional.

​“Kita mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, dan meningkatkan sumber daya manusia dan efisiensi. Jadi ke depannya, pertumbuhan Indonesia tidak hanya akan stabil, tetapi juga akan lebih produktif dan berkelanjutan serta menjadi lebih terdiversifikasi dan tangguh,” ungkap Purbaya.

​Pernyataan ini merangkum paparan Purbaya dalam rilis pada Selasa (21/4) menyusul kehadirannya pada rangkaian Spring Meetings IMF–World Bank. Acara bertaraf internasional tersebut berlangsung di Washington DC pada 13–17 April lalu.

​Dalam forum tersebut, Purbaya merinci arah kebijakan ekonomi dalam negeri. Fokus pemerintah saat ini tidak sekadar mengejar stabilitas angka semata.

​Pemerintah mulai menggeser target pembangunan pada penciptaan pertumbuhan bernilai tambah. Langkah ini menyasar pembukaan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat.

​Terdapat tiga pilar utama penopang transformasi ekonomi nasional ini. Ketiganya mencakup peningkatan arus investasi, penguatan industrialisasi, serta dorongan produktivitas.

​Purbaya menilai kinerja ekonomi Indonesia saat ini tergolong sangat solid. Prestasi ini terlihat menonjol bila membandingkannya dengan negara anggota G20 atau negara berkembang lain.

​Ketangguhan ekonomi domestik tercermin dari sejumlah indikator makroekonomi pokok. Pertumbuhan tetap kuat, laju inflasi terkendali, serta rasio utang berada pada level aman.

​Keberhasilan menjaga stabilitas ini sangat bergantung pada peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Instrumen fiskal berfungsi optimal sebagai peredam kejut perekonomian.

​Kebijakan belanja APBN terbukti efektif melindungi daya beli masyarakat luas. Pemerintah juga memegang teguh komitmen penerapan disiplin fiskal.

​Batas defisit anggaran senantiasa dijaga secara ketat. Angka defisit dipatok maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

​Pemerintah merencanakan penguatan sinergi kebijakan makro pada masa mendatang. Hal ini melibatkan harmonisasi berkelanjutan antara langkah fiskal dan moneter.

​"Indonesia akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal, moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN," tutup Purbaya.