periskop.id – Perwakilan lembaga riset Cinepoint Sigit Prabowo menyoroti ironi besar dalam industri perfilman nasional yang berhasil menembus peringkat sembilan pasar terbesar dunia namun masih mengalami krisis transparansi data penonton yang serius.

“Kita sejak tahun 2014 itu sudah masuk top 20 global markets dan kemudian persisnya di tahun 2024 yang lalu kita adalah top 9 admission di seluruh dunia,” kata Sigit dalam Rapat Panja Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/2).

Lembaga independen ini menilai capaian gemilang tersebut tidak dibarengi dengan sistem pendataan yang mumpuni. Negara hingga kini belum memiliki satu data box office terintegrasi yang mampu memantau penjualan tiket bioskop secara real-time dan transparan.

Kondisi ini dinilai sebagai sebuah anomali. Di satu sisi penjualan tiket bioskop Indonesia masuk jajaran elit dunia, namun di sisi lain infrastruktur data pendukungnya justru tertinggal jauh.

“Negara belum memiliki data box office terintegrasi untuk memantau transparansi data tiket secara real time. Ini merupakan sesuatu yang cukup ironis sebetulnya karena di sisi lain bioskop perkembangan industri cinema Indonesia ini sangat positif,” ungkapnya.

Ketiadaan data resmi ini sebenarnya melanggar amanat regulasi yang berlaku. Pasal 13 Undang-Undang Perfilman secara tegas mewajibkan pelaku usaha bioskop atau eksibitor untuk melaporkan data penonton kepada pemerintah secara berkala untuk dipublikasikan.

Sayangnya, aturan tersebut mandul di lapangan. Pemerintah tidak mempublikasikan data yang seharusnya menjadi hak publik dan acuan industri, sehingga pasar film Indonesia seolah berjalan dalam kegelapan tanpa navigasi data yang akurat.

“Adanya ketersediaan data tersebut kan merupakan sesuatu yang sudah diamanatkan oleh Undang-Undang Perfilman Pak, persisnya di pasal 13 Undang-Undang Perfilman di mana data tersebut harusnya dipublikasikan secara berkala, dikumpulkan dan sebagainya. Dan itu tidak jalan,” jelas Sigit.

Situasi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya yang menjadi pesaing Indonesia. Tiongkok, misalnya, memiliki sistem transparansi data yang sangat terbuka hingga ke detail terkecil.

“Di China lebih ekstrim lagi Pak, ini adalah sistem pelaporan box office China Maoyan, itu benar-benar real time online dan itu sampai sangat detail kepada setiap kota, setiap segmen, setiap film, sampai itu dan data itu terbuka betul bagi publik,” paparnya.

Cinepoint menekankan bahwa keberadaan data yang valid sangat krusial untuk mengukur kesehatan industri. Tanpa data yang komprehensif, sulit bagi pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi pengembangan yang maksimal.

“Keberadaan kita mengukur kemampuan kita untuk mengukur dan memahami industri secara lebih komprehensif tentu akan menimbulkan potensi juga untuk bagaimana kita mengembangkan industri lebih maksimal ke depannya,” pungkasnya.