periskop.id – Ketua Panja Perfilman Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menyentil industri perfilman nasional yang dinilai terlalu didominasi oleh genre horor dan drama perselingkuhan sehingga minim nilai edukatif bagi masyarakat luas.
“Teman-teman di rapat kami internal itu banyak menyoroti bahwa mayoritas film kita itu adalah perselingkuhan, horor ya. Yang boleh dibilang kandungan edukatifnya sangat minim,” kata Lamhot saat memimpin Rapat Panja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/2).
Politisi Golkar ini mengaku merindukan era kejayaan tontonan masa lalu seperti "Si Unyil" yang sarat pesan moral. Ia mendorong sineas agar lebih banyak memproduksi karya yang membangkitkan kebanggaan nasional atau mempromosikan pariwisata, bukan sekadar menakut-nakuti penonton.
Lamhot mengaku enggan datang ke bioskop jika pilihan filmnya hanya berkutat pada hantu atau konflik rumah tangga. Menurutnya, film seharusnya menjadi instrumen efektif untuk membangun karakter bangsa (nation building).
Menanggapi sentilan tersebut, Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) Angga Dwimas Sasongko langsung memberikan bantahan berbasis data. Menurutnya, anggapan bahwa layar bioskop dikuasai hantu hanyalah perasaan subjektif semata.
“Dikotomi terhadap horor itu sebetulnya hanya perasaan, bukan data. Jadi rasanya horor banyak, padahal sebetulnya horor cuma satu per tiga,” tegas Angga.
Perwakilan APFI lainnya, Riza, memberikan perspektif berbeda mengenai sulitnya memproduksi film bertema kebangsaan atau sejarah yang diminta DPR. Ia mengakui film jenis ini memerlukan biaya produksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan genre populer lainnya.
“Untuk kita bisa membuat film-film taruhlah film sejarah dalam hal ini. Itu membutuhkan biaya yang tidak main-main tentunya,” jelas Riza.
Riza menekankan bahwa membebankan produksi film nasionalis sepenuhnya kepada mekanisme pasar adalah hal yang tidak realistis. Risiko kerugian finansial menjadi momok menakutkan bagi produser jika tidak ada intervensi atau bantuan pendanaan dari negara.
Angga mencontohkan dirinya yang kini tengah berjuang mewujudkan proyek ambisius film "Perang Jawa" tentang Pangeran Diponegoro. Meski memiliki semangat idealisme, ia mengaku masih memutar otak untuk menutup kebutuhan bujet yang raksasa tanpa adanya investor yang berani ambil risiko.
“Ini akan jadi sebuah film yang angkanya saya juga belum tahu uangnya dari mana sebetulnya. Karena akan sangat besar sekali,” ungkap Angga.
Tinggalkan Komentar
Komentar