periskop.id – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso mengusulkan agar ratusan ribu warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) diberdayakan sebagai tenaga kerja industri untuk menyiasati tingginya upah buruh sekaligus mendukung program hilirisasi Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau di Indonesia dibuat seperti itu (upah murah) mungkin tidak bisa karena terlalu banyak serikat buruh, nanti ada demo segala macam. Tapi bisa dilakukan di pemasyarakatan,” kata Sugiat dalam rapat kerja bersama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (3/2).

Politisi Fraksi Gerindra ini menilai kesuksesan hilirisasi di Cina dan Vietnam tak lepas dari ketersediaan tenaga kerja yang disiplin dan murah. Model tersebut sulit diterapkan di sektor formal Indonesia saat ini karena sering terkendala dinamika serikat pekerja.

Sugiat memaparkan potensi tenaga kerja yang sangat besar di balik jeruji besi. Dari total sekitar 280.000 warga binaan di seluruh Indonesia, terdapat 200.000 orang berusia produktif yang siap dikerahkan tanpa memerlukan biaya konsolidasi yang rumit.

Kasus tumbangnya raksasa tekstil Sritex dijadikan contoh nyata mengenai beban berat industri manufaktur terkait gaji pegawai. Kondisi pailit akibat ketidaksanggupan membayar upah ini diyakini tidak akan terjadi jika produksi dilakukan di dalam lingkungan Lapas.

“Salah satu faktor kenapa Sritex itu tumbang karena ketidakmampuan pemiliknya untuk memberi gaji kepada pegawainya. Kalau di Lapas kan tidak seperti itu,” jelas dia.

Aspek efisiensi anggaran negara turut menjadi sorotan utama dalam usulan ini. Pemerintah harus merogoh kocek hingga Rp2,7 triliun per tahun hanya untuk biaya makan narapidana tanpa adanya timbal balik ekonomi yang signifikan bagi kas negara.

Sugiat menganggap pengeluaran triliunan rupiah tersebut sebagai kerugian investasi jika tidak dikelola dengan produktif. Ia mendorong adanya perputaran ekonomi yang dihasilkan oleh para penghuni Lapas.

“Tadi Bang Willy bisik-bisik, Rp2,7 triliun setiap tahun habis hanya untuk bahan makan warga binaan. Kalau investasi itu, itu rugi Pak kalau kita nggak balik,” lanjut Sugiat.

Kementerian Imipas di bawah komando Agus Andrianto didorong untuk mentransformasi Lapas menjadi unit industri produktif dalam lima tahun ke depan. Sektor yang bisa digarap mulai dari konveksi, sepatu, hingga perakitan telepon seluler dan elektronik.

“Saya kepingin setiap Lapas dan Rutan, 5 tahun Pak Agus jadi Menteri sudah masuk industri sepatu, HP, elektronik. Cina bisa, Vietnam bisa, kenapa Indonesia tidak bisa?” ucapnya.

Selain motif ekonomi, pemberdayaan ini bertujuan menjaga warga binaan agar tetap memiliki aktivitas positif. Kekosongan kegiatan di dalam rutan dinilai sering memicu perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan narkoba.

Sugiat turut mengapresiasi langkah rintisan yang sudah ada seperti program ketahanan pangan di Nusakambangan. Ia juga memuji Lapas Tangerang yang berhasil membangun rumah sederhana tipe 30 dengan biaya sangat efisien sebesar Rp56 juta.

“Soko guru penguatan hilirisasinya Pak Prabowo bisa di Lapas,” tutup Sugiat.