periskop.id – PT Produksi Film Negara (PFN) mengumumkan rencana pembangunan "Sinewara" sebagai jaringan bioskop pelat merah pertama yang akan beroperasi di Jakarta guna menampung karya-karya sineas lokal yang kerap kesulitan mendapatkan layar.

“Insya Allah Ketua, PFN akan mendirikan bioskop negara pertama yang bernama Sinewara yang berlokasi di Otista, itu di lahan PFN. Jadi ini sebagai pilot project untuk bioskop negara pertama,” kata Direktur Utama PFN Riefian Fajarsyah dalam Rapat Panja Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2).

BUMN perfilman ini memosisikan proyek di kawasan Jakarta Timur tersebut sebagai langkah awal strategis. Ifan, sapaan akrab sang Dirut, berharap inisiatif ini dapat memancing pemerintah daerah untuk ikut serta mengembangkan infrastruktur bioskop di wilayahnya masing-masing.

“Semoga ini bisa menjadi stimulan dan juga trigger untuk daerah-daerah lain ikut mengembangkan bisnis bioskop negara ini dengan cara bergabung menjadi shareholder,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ifan juga menyoroti ketimpangan akses hiburan yang menciptakan kesenjangan sosial baru. Ia mendefinisikan istilah "minoritas" bukan lagi sebatas suku atau ras, melainkan kelompok masyarakat di kota lapis ketiga yang tidak memiliki akses menonton film.

“Bahkan kami memaknai minoritas dengan makna baru yaitu penikmat film. Kalau hari ini di kota sibuk bicara Jumbo (film), mungkin di belahan kabupaten atau kota third city mereka enggak relate memang sama konteks yang kita obrolkan sekarang,” jelasnya.

Selain masalah infrastruktur fisik, PFN juga mengkritisi sistem penayangan film nasional yang dinilai kurang berpihak. Jadwal rilis film Indonesia yang terpaku pada hari tertentu dianggap memberatkan persaingan dengan film impor.

“Saat ini memang film Indonesia, film lokal itu tayang di layar bioskop setiap hari Kamis saja, di mana daya tahan penayangan filmnya itu sangat bergantung pada okupansi penonton,” ungkapnya.

Kondisi ini membuat banyak film berkualitas turun layar terlalu cepat sebelum sempat menemukan penontonnya. PFN mengusulkan adanya kajian mendalam mengenai sistem proteksi atau screen quota yang lebih adil bagi karya anak bangsa.

“Bagaimana jika diadakan hari penambahan untuk tayangnya film lokal dan juga sistem daripada ketahanan film tersebut yang ada di layar, yang kami harap ini akan lebih meringankan dan mendorong para pelaku film,” tuturnya.

Sinewara nantinya direncanakan beroperasi dengan konsep eksklusif menayangkan film Indonesia. Langkah ini diharapkan menjadi oase bagi produser lokal yang selama ini kesulitan menembus ketatnya persaingan di jaringan bioskop komersial raksasa.