periskop.id - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kinerja keuangan tertinggi sepanjang sejarah pada 2025, di tengah tekanan global dan volatilitas harga komoditas.
Perusahaan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp7,92 triliun, melonjak 106% dibandingkan 2024 sebesar Rp3,85 triliun. EBITDA juga naik 56% menjadi Rp10,51 triliun. Sementara itu, pendapatan tumbuh 22% menjadi Rp84,64 triliun.
Direktur Utama Antam Untung Budiharto mengatakan capaian ini mencerminkan fundamental bisnis yang kuat.
“Kinerja Antam pada FY25 memperkuat posisi perusahaan sebagai entitas pertambangan mineral terintegrasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, perusahaan tetap berorientasi pada “penciptaan nilai jangka panjang” bagi seluruh pemangku kepentingan.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor melonjak 111% menjadi Rp13,68 triliun, sementara laba usaha naik 180% menjadi Rp8,40 triliun. Beban keuangan berhasil ditekan 30% menjadi Rp167,10 miliar. Laba bersih per saham juga meningkat 98% menjadi Rp299,98.
Secara neraca, total aset Antam mencapai Rp52,53 triliun atau tumbuh 18%, dengan ekuitas naik 14% menjadi Rp36,60 triliun. Arus kas operasi meningkat 53% menjadi Rp5,62 triliun, sedangkan kas dan setara kas melonjak 77% menjadi Rp8,43 triliun.
Penjualan Emas Dominan, Nikel dan Bauksit Tumbuh Signifikan
Kinerja operasional yang solid menjadi penopang utama pertumbuhan. Untung menyebut, kinerja operasional yang optimal menjadi kontributor utama terhadap capaian finansial perusahaan.
Ia menambahkan, hal tersebut ditopang oleh pengelolaan keuangan yang prudent serta struktur neraca yang tetap solid.
Segmen emas masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 79% terhadap total penjualan. Nilai penjualan emas mencapai Rp66,47 triliun, naik 15% secara tahunan, didorong kuatnya permintaan domestik sebagai instrumen lindung nilai.
Segmen nikel menyumbang Rp14,85 triliun atau 18% dari total pendapatan, tumbuh 56%. Produksi bijih nikel mencapai 16,11 juta wmt, naik 62%, dengan penjualan meningkat 75% menjadi 14,58 juta wmt, tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Sementara itu, segmen bauksit dan alumina mencatat penjualan Rp2,92 triliun, naik 62%. Produksi bauksit melonjak 112% menjadi 2,83 juta wmt, dengan penjualan naik 157%. Produksi dan penjualan alumina juga mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Perkuat Hilirisasi dan ESG untuk Pertumbuhan Jangka Panjang
Selain kinerja keuangan, Antam juga mempercepat strategi hilirisasi dan keberlanjutan. Perusahaan mencatat perbaikan skor ESG dengan penurunan risiko dari 42,06 menjadi 33,36 menurut Sustainalytics.
Di sisi pengembangan bisnis, Antam tengah menggarap proyek fasilitas manufaktur logam mulia di JIIPE Gresik. Pada segmen nikel, perusahaan juga melanjutkan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik bersama mitra global, yang telah memasuki tahap konstruksi.
Selain itu, Antam berkolaborasi dengan Indonesia Battery Corporation dan mitra strategis untuk membangun rantai pasok baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pada komoditas bauksit, perusahaan mengembangkan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah. Fase pertama ditargetkan beroperasi pada 2026, disertai pengembangan fase kedua untuk menambah kapasitas hingga 1 juta ton alumina per tahun.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Antam menargetkan pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperkuat kontribusi terhadap industri nasional.
Tinggalkan Komentar
Komentar