periskop.id – Hakim Konstitusi purnabakti Arief Hidayat mengungkapkan kisah personal mengenai keluarganya di penghujung masa pengabdian. Ia mengaku sempat memiliki harapan agar sang buah hati menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia, namun takdir berkata lain karena anak-anaknya lebih memilih jalur akademisi.
“Dua-duanya cuma ingin menjadi dosen. Tapi saya sebetulnya ingin anak saya bisa jadi wakil presiden atau... tapi tidak jadi kenyataan itu,” kata Arief saat menyampaikan pesan kesan purnabakti di Gedung MK, Jakarta, Rabu (4/2).
Arief menceritakan bahwa kedua anaknya kini telah mantap meniti karier sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri. Pilihan hidup ini berbeda dari bayangan karier politik yang sempat didambakan sang ayah.
Anak sulungnya kini tercatat sebagai dosen di Universitas Diponegoro (Undip). Sementara itu, anak bungsunya mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Sebelas Maret (UNS).
“Anak-anak memilih berkarier sebagai dosen yang sekarang yang sulung di Undip dan yang bungsu di UNS dan dua-duanya cuma ingin menjadi dosen,” jelas Arief.
Meski cita-cita melihat anaknya menjadi orang nomor dua di republik ini tidak terwujud, Arief tetap merasa sangat bersyukur. Ia merasa beruntung memiliki anak-anak yang mandiri dan suportif.
Dukungan penuh dari keluarga dirasakan sangat berarti selama 13 tahun ia menjabat sebagai hakim konstitusi. Arief mengapresiasi sikap anak-anaknya yang tidak pernah menuntut hal-hal yang menyulitkan posisinya sebagai pejabat negara.
“Terima kasih anak-anak saya yang telah mendukung karier Bapaknya tidak merepotkan, tidak minta ini minta itu,” ungkap Arief.
Selain soal anak, Arief memberikan kredit khusus kepada sang istri yang setia mendampinginya merantau di Jakarta. Ia menyebut kehadiran pasangannya itu menjadi "rem" yang membuatnya tetap menjadi pribadi yang lurus.
Dalam suasana santai, ia bahkan berseloroh mengenai godaan hidup di ibu kota jika tanpa pendampingan istri. Kehadiran istri dianggap penyelamat integritas moralnya.
"Mungkin kalau saya tidak didampingi di Jakarta, saya bisa kawin lagi. Tapi karena istri saya selalu mengikuti saya, terus saya terpaksa menjadi baik. Menjadi baik karena selalu didampingi," tuturnya.
Faktor usia anak-anak yang sudah dewasa menjadi berkah tersendiri. Hal ini memungkinkan sang istri untuk menetap sepenuhnya di Jakarta mendampingi Arief selama memangku jabatan strategis tersebut.
Dukungan emosional inilah yang membuatnya merasa "terbungkus dengan cinta" hingga garis finis pengabdian.
Sebagai informasi, Arief resmi pensiun usai 13 tahun mengawal konstitusi. Pemberhentian hormat ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 9-P Tahun 2026 yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto, terhitung mulai 3 Februari 2026.
Tinggalkan Komentar
Komentar