periskop.id – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengingatkan pentingnya sikap saling menghormati antara warga berpuasa dan tidak berpuasa selama bulan suci Ramadan. Ukuran toleransi paling sederhana terwujud dari pemberian penghormatan setara kepada kedua belah pihak di tengah masyarakat.
Penjelasan mengenai toleransi beragama ini disampaikan di Gedung Kementerian HAM, Jakarta, Jumat (20/2). “Dalam konteks HAM, mereka yang puasa harus dihormati. Dan mereka yang makan, tidak berpuasa, harus dihormati. Itulah yang namanya prinsip Hak Asasi Manusia. Sederhana aja,” kata Pigai.
Sikap saling menghargai ini merupakan wujud nyata penerapan prinsip kemanusiaan. Kehidupan bermasyarakat majemuk membutuhkan kesadaran penuh dari setiap individu.
Pigai secara khusus menyoroti kebiasaan razia atau sweeping warung makan oleh kelompok tertentu. Aksi penertiban paksa ini kerap terjadi pada siang hari sepanjang bulan puasa.
Tindakan sepihak tersebut dinilai sangat tidak perlu terjadi. Syarat utamanya, para pedagang makanan sudah berinisiatif menjaga etika publik secara baik dan pantas.
Pedagang bisa menutup area jendela atau menutupi etalase makanan. Langkah ini cukup efektif agar aktivitas jual beli tidak terlihat mencolok dari pinggir jalan.
“Kalau tidak boleh sweeping kalau orang buka warung makan tapi dengan cara tutup jendela atau nutup supaya tidak boleh jual-jualan di pinggir jalan. Enggak boleh. Kalau secara terbuka tidak mempertontonkan ke publik, enggak usah sweeping. Apalagi kalau dia tertutup," tegasnya.
Keberadaan tempat makan pada siang hari rupanya tetap memiliki fungsi krusial. Sebagian kelompok masyarakat sangat bergantung pada operasional warung makan tersebut.
Banyak warga tetap membutuhkan akses makanan siap saji. Hal ini termasuk bagi umat Muslim sendiri dalam kondisi tertentu.
Kelompok perempuan yang sedang berhalangan atau menstruasi tentu memerlukan asupan makanan seperti biasa. Kebutuhan dasar ini tidak bisa diabaikan begitu saja atas nama larangan berdagang.
“Maaf, umat Muslim juga yang terutama perempuan-perempuan ada saat tertentu kan tidak makan juga kan? Oleh karena itu penting juga gini, mereka yang berpuasa dihormati dan dihargai, mereka yang tidak berpuasa dihormati dan dihargai,” ungkapnya.
Pemerintah turut memberikan imbauan tegas kepada seluruh organisasi kemasyarakatan (ormas). Semua elemen wajib menjaga ketertiban lingkungan tempat tinggal.
Formula toleransi sederhana ini wajib menjadi pegangan utama. Suasana kondusif selama bulan suci akan tercipta lewat tenggang rasa bersama.
"Imbauan saya sesederhana itu. Mereka yang berpuasa dihormati dan dihargai, mereka yang tidak berpuasa dihormati dan dihargai. Itu," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar