periskop.id - Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memastikan pihak kepolisian terus bekerja secara intensif untuk menangani kasus penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Kapolri menegaskan, langkah ini merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi Presiden untuk mengungkap kasus tersebut secara menyeluruh.
“Kemarin, Bapak Presiden sudah jelas memerintahkan kita harus mengusut tuntas. Tentunya saat ini Polri sedang bekerja,” kata Listyo di Polda Metro Jaya, Rabu (18/3).
Dalam proses penyelidikan, Polri melalui Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya kini tengah melakukan pendalaman terhadap puluhan kamera pengawas yang berada di sekitar lokasi kejadian.
“Ia mengatakan Polri melalui Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya sedang mendalami 86 kamera pengawas (CCTV) di tempat kejadian perkara (TKP),” ujar Listyo.
Meskipun telah mengantongi puluhan rekaman, Listyo menegaskan tim penyidik tidak akan terpaku hanya pada satu sumber bukti. Polri berkomitmen untuk mengumpulkan berbagai informasi tambahan guna memperkuat konstruksi kasus tersebut.
“Kendati demikian, Kapolri menegaskan bahwa Polri tidak akan berhenti pada rekaman CCTV dan akan mencari sumber-sumber informasi serta alat bukti lainnya,” ujarnya.
Listyo berharap penggabungan berbagai alat bukti ini dapat segera mengungkap pelaku di balik aksi kekerasan tersebut.
“Yang kemudian semua kita satukan untuk betul-betul bisa membuat kasus ini menjadi terungkap ataupun paling tidak menjadi terang benderang,” tuturnya.
Diketahui, peristiwa penyiraman air keras ini menimpa Andrie Yunus pada Kamis malam (12/3/2026) sekitar pukul 23.37 WIB di kawasan Jalan Salemba I - Talang, Jakarta Pusat. Saat itu, Andrie yang baru saja menyelesaikan perekaman siniar (podcast) di Kantor YLBHI, dihampiri oleh dua orang laki-laki misterius yang berboncengan motor matic melawan arah. Akibat serangan tersebut, Andrie menderita luka bakar hingga 24% yang tersebar di area tangan, muka, dada, hingga bagian mata.
KontraS mencatat tidak ada barang milik korban yang hilang dalam insiden tersebut, sehingga serangan ini diduga kuat merupakan upaya sistematis untuk membungkam suara kritis pembela HAM.
Tinggalkan Komentar
Komentar