Periskop.id - Pandangan masyarakat global terhadap penghormatan kepada perempuan menunjukkan tren positif dalam satu dekade terakhir.
Berdasarkan hasil survei Gallup pada 2025, median 72% responden di 140 negara menilai bahwa perempuan di negara mereka telah diperlakukan dengan hormat dan bermartabat.
Angka ini menandai kenaikan signifikan sebesar sembilan poin persentase dibandingkan tahun 2022 yang sempat menyentuh level terendah sebesar 63%.
Kenaikan ini sekaligus menjadi sinyal pemulihan persepsi publik pasca pandemi COVID-19 dan gelombang gerakan sosial seperti #MeToo yang sempat mengguncang kesadaran global mengenai isu gender.
Tren Kenaikan Global dan Posisi Indonesia
Antara tahun 2022 hingga 2025, sebanyak 24 negara mencatat lonjakan pandangan positif minimal 10 poin. Aljazair memimpin dengan kenaikan 28%, diikuti oleh Tunisia sebesar 24% dan Namibia sebesar 20%.
Di kawasan Asia Tenggara, Myanmar mencatatkan kenaikan sebesar 11%, sementara Indonesia menunjukkan pertumbuhan tipis sebesar 1%. Berikut adalah daftar negara dengan lonjakan persepsi positif tertinggi:
| Nama Negara | Kenaikan Nilai (Value) |
|---|---|
| Algeria | 28% |
| Tunisia | 24% |
| Namibia | 20% |
| Kroasia | 19% |
| Azerbaijan | 17% |
| Siprus | 17% |
| Irak | 16% |
| Siprus Utara | 15% |
| Albania | 14% |
| Chile | 14% |
| Niger | 14% |
| Gabon | 13% |
| Moldova | 13% |
| El Salvador | 13% |
| Kosta Rika | 13% |
| Mauritania | 12% |
| Meksiko | 12% |
| Ekuador | 12% |
| Sri Lanka | 11% |
| Myanmar | 11% |
| Makedonia Utara | 11% |
| Venezuela | 10% |
| Yordania | 10% |
| Georgia | 10% |
Secara umum di ASEAN, mayoritas negara mengalami kenaikan kecil, namun beberapa negara seperti Malaysia, Laos, dan Filipina justru mencatat penurunan persepsi antara 1% hingga 2%.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tren global membaik, dinamika di setiap wilayah tetap dipengaruhi oleh isu lokal yang berbeda. Berikut ini adalah rincian datanya:
| Nama Negara (ASEAN) | Kenaikan/Penurunan Nilai |
|---|---|
| Myanmar | 11% |
| Kamboja | 4% |
| Vietnam | 3% |
| Thailand | 3% |
| Indonesia | 1% |
| Singapura | 1% |
| Malaysia | -1% |
| Laos | -1% |
| Filipina | -2% |
Ironi di Negara Maju: Kesenjangan Gender yang Melebar
Meskipun rasa hormat secara umum meningkat, muncul anomali menarik di negara demokrasi berpendapatan tinggi. Laporan Gallup mengungkapkan adanya jurang pemisah yang lebar antara persepsi laki-laki dan perempuan.
Di 87 negara, laki-laki jauh lebih optimis dan merasa perempuan sudah dihormati, sementara para perempuan di negara tersebut justru merasa sebaliknya.
Kesenjangan gender terbesar tercatat di Portugal dengan selisih 26 poin, diikuti Australia sebesar 25 poin, dan Yunani sebesar 24 poin.
Amerika Serikat juga mencatatkan rekor kesenjangan di mana 67% laki-laki merasa perempuan sudah dihormati, namun hanya 46% perempuan yang setuju dengan pernyataan tersebut.
Tidak ditemukan satu pun negara di dunia di mana kelompok perempuan lebih optimis dibandingkan laki-laki dalam hal penghormatan gender ini.
Pengalaman Pribadi vs Realitas Sistemik
Gallup juga menyoroti perbedaan antara pengalaman harian dengan pandangan sistemik. Menariknya, saat ditanya mengenai pengalaman pribadi sehari sebelumnya, baik laki-laki maupun perempuan melaporkan tingkat rasa hormat yang sama tinggi, yakni sebesar 90%.
Namun, kesenjangan muncul saat pertanyaan beralih ke kondisi negara secara umum. Seorang perempuan mungkin merasa diperlakukan baik secara pribadi dalam satu hari, tetapi ia tetap merasa bahwa secara sistemik, perempuan di negaranya masih mengalami diskriminasi atau kekerasan.
Fenomena ini paling mencolok terjadi di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Ketimpangan pandangan ini biasanya dipicu oleh paparan berita, kasus kriminalitas, hingga ketimpangan upah kerja yang dilihat perempuan sebagai masalah struktural meskipun kehidupan harian mereka terlihat tenang.
Hubungan Erat Antara Rasa Hormat dan Rasa Aman
Temuan penting lainnya adalah korelasi antara perlakuan masyarakat dengan rasa aman perempuan. Di negara-negara di mana perempuan merasa kurang dihormati, mereka juga cenderung merasa jauh lebih tidak aman saat berjalan sendirian di malam hari.
Pola ini terlihat jelas di negara seperti Australia dan Amerika Serikat. Di sana, rendahnya persepsi penghormatan berjalan beriringan dengan tingginya rasa takut perempuan di ruang publik.
Meskipun hubungan ini tidak secara otomatis membuktikan sebab akibat, data menunjukkan bahwa rasa hormat dan rasa aman adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan perempuan di seluruh dunia.
Tinggalkan Komentar
Komentar