Periskop.id - Perdebatan klasik mengenai cara menyantap bubur ayam, apakah lebih baik diaduk atau tidak diaduk, ternyata bukan sekadar urusan selera lidah semata. 

Sebuah penelitian unik berjudul “Hubungan Tipe Makan Bubur Diaduk dan Tidak Diaduk terhadap Tingkat Emosional Anggota OSIS SMAI Al Azhar 8 Summarecon Bekasi” mencoba membedah fenomena ini dari sudut pandang psikologi.

Studi yang dipublikasikan dalam Proceedings of Indonesian Fun Science Award 3.0 pada 2021 ini mengambil subjek 60 pengurus OSIS SMA Islam Al Azhar 8 Kota Bekasi. 

Pengambilan data yang dilakukan pada awal tahun 2021 tersebut mengungkap bahwa 55% responden adalah penganut aliran bubur diaduk, sementara 45% sisanya merupakan tim bubur tidak diaduk.

Dalam konteks penelitian ini, tingkat emosional tidak dimaknai secara sempit sebagai kondisi seseorang yang mudah marah atau memiliki suasana hati yang tidak stabil. 

Peneliti justru menggunakan parameter kecerdasan emosional yang lebih luas, yang mencakup tiga aspek fundamental dalam kepribadian manusia. 

Aspek pertama adalah kemampuan mengenali emosi diri sendiri, yaitu sejauh mana seseorang mampu memahami perasaan pribadinya secara mendalam.

Aspek kedua melibatkan kemampuan mengenali emosi orang lain, yang berkaitan erat dengan tingkat empati serta sensitivitas dalam memahami perasaan orang-orang di sekitar. 

Terakhir, aspek ketiga adalah kemampuan membina hubungan, yang merujuk pada kompetensi seseorang dalam menjaga relasi sosial dan mempertahankan sikap positif dalam interaksi antarpribadi. 

Melalui ketiga dimensi inilah peneliti mencoba melihat apakah cara menyantap bubur ayam memiliki korelasi dengan kematangan emosional seorang siswa.

Tim Tidak Diaduk Unggul Tipis

Berdasarkan hasil survei dan kuesioner, kelompok siswa yang makan bubur tanpa diaduk memperoleh rata-rata skor tingkat emosional sebesar 42,5. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok pemakan bubur diaduk yang mendapatkan skor rata-rata 40,8.

Meski terdapat selisih angka, peneliti mencatat bahwa kedua kelompok tersebut sebenarnya masih berada dalam kategori tingkat emosional yang sama, yakni kategori rendah. 

Peneliti menetapkan interval penilaian di mana skor 38,5 hingga kurang dari 55 masuk dalam klasifikasi rendah. Dengan demikian, cara makan bubur tidak bisa dianggap sebagai penentu mutlak kecerdasan emosional seseorang.

Jika dibedah lebih mendalam, perbedaan yang paling menonjol ditemukan pada aspek mengenali emosi diri. Kelompok "tidak diaduk" meraih skor 45, sementara kelompok "diaduk" meraih skor 40. 

Peneliti menafsirkan bahwa individu yang memilih bubur tidak diaduk cenderung lebih memahami dirinya sendiri. Hal ini dikaitkan dengan karakteristik penyuka bubur tidak diaduk yang umumnya menyukai keteraturan, ketenangan, dan menjaga estetika atau kerapian tampilan makanan.

Namun, untuk dua aspek lainnya, yakni mengenali emosi orang lain dan membina hubungan, kedua kelompok meraih skor yang identik. 

Aspek mengenali emosi orang lain berada di angka 37,5 dan aspek membina hubungan di angka 45. Hal ini membuktikan bahwa preferensi cara makan bubur tidak memengaruhi kemampuan seseorang dalam berinteraksi sosial atau berempati.

Penjelasan Soal Beda Preferensi

Alasan di balik pilihan cara makan ini sangat beragam. Responden tim diaduk meyakini bahwa dengan mencampur semua bahan, rasa pelengkap bubur akan menyatu secara unik dan merata. Selain itu, cara ini dianggap lebih praktis dan cepat diproses oleh lambung.

Di sisi lain, tim tidak diaduk lebih mengutamakan indra penglihatan atau estetika. Menikmati topping satu per satu dan menjaga tampilan mangkuk tetap bersih dianggap dapat meningkatkan nafsu makan. Bagi mereka, makanan yang tertata rapi memberikan kepuasan visual yang berujung pada ketenangan saat makan.

Meskipun tim bubur tidak diaduk mencatatkan skor sedikit lebih tinggi dalam pemahaman diri, penelitian ini menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kognitif, pengalaman hidup, dan kemampuan mengelola perasaan, bukan oleh metode mengonsumsi makanan. Hal ini sejalan dengan konsep kecerdasan emosi dari tokoh psikologi Goleman serta Salovey dan Mayer.

Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa perdebatan cara makan bubur adalah fenomena sosial yang menarik untuk dibahas, namun tidak memiliki korelasi yang signifikan secara ilmiah untuk menilai karakter atau stabilitas emosional seseorang. Pada akhirnya, baik diaduk maupun tidak diaduk, pilihan tersebut hanyalah masalah preferensi visual dan kebiasaan menikmati hidangan.