periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive!
Jam menunjukkan pukul 3 sore. Matahari lagi terik-teriknya, perut sudah mulai keroncong, dan tenggorokan rasanya kering banget. Tiba-tiba, ada pengendara motor nyalip sembarangan di depan kamu, atau teman kerja bikin kesalahan sepele.
Detik itu juga, darah rasanya naik ke ubun-ubun. Mulut gatal pengen ngomel, tangan gatal pengen klakson panjang. "Woy, bisa bawa motor nggak sih?!"
Eh, tapi baru ingat... "Astaghfirullah, lagi puasa."
Sobat Halalive, perasaan ini valid banget, kok. Secara medis, ada istilah hangry (gabungan hungry + angry). Ketika kadar gula darah turun, otak kita kekurangan bahan bakar untuk mengontrol impuls emosi. Jadinya, sumbu sabar kita memendek drastis. Senggol dikit, rasanya pengen "bacok".
Tapi, sebagai umat Muslim yang lagi belajar upgrade diri, kita coba yuk kelola perasaan biologis ini biar nggak merusak kualitas ibadah kita.
Sayang banget kan kalau puasa cuma mindahin jam makan, tapi suasana hati masih sama "panasnya" kayak hari biasa?
Puasa Itu Perisai Diri
Rasulullah SAW mengibaratkan puasa itu sebagai Junnah atau perisai. Fungsinya buat menangkis serangan hawa nafsu. Kalau kita puasa tapi lisan masih tajam dan hati masih panas, itu ibarat bawa perisai ke medan perang tapi perisainya bolong-bolong.
Nabi SAW pernah memberikan tips keren soal ini:
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
Latin: Wa idza kaana yaumu shaumi ahadikum falaa yarfuts walaa yashkhab, fa in saabbahu ahadun au qatalahu fal yaqul: Inni imru'un shaa'im.
Artinya: "Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan janganlah berteriak-teriak (gaduh). Jika ada orang yang mencelanya atau mengajaknya berkelahi, maka katakanlah: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'." (HR. Bukhari & Muslim)
Coba perhatikan, Rasulullah nggak melarang kita merasa marah. Beliau menyuruh kita untuk declare ke diri sendiri dan orang lain: "Sorry, aku lagi puasa. Aku lagi mode 'Do Not Disturb' dari drama emosi."
Ini bukan tanda kita lemah atau kalah, Sobat Halalive. Justru ini tanda kalau kita punya kontrol diri yang kuat.
Padahal Setan Dibelenggu, Kok Masih Emosi?
Sering dengar kan kalau di bulan Ramadan setan-setan dibelenggu? Terus kenapa kita masih sering ngerasa kesal, ghibah, atau nyinyir?
Jawabannya mungkin agak menohok: Bisa jadi itu bukan bisikan setan, tapi Nafs (hawa nafsu) kita sendiri.
Selama ini kita mungkin terlalu sering menyalahkan setan. Padahal, Ramadan adalah momen jujur-jujuran. Ketika godaan eksternal (setan) diminimalisir, yang tersisa adalah karakter asli kita. Kalau pas Ramadan kita masih emosian, berarti memang "otot sabar" kita yang perlu dilatih lagi.
Marah itu wajar, manusiawi. Tapi, membiarkan marah menguasai diri, itu pilihan.
Ingat kata Nabi, definisi orang kuat yang sebenarnya itu begini:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Latin: Laisasy-syadiidu bish-shura'ati, innamasy-syadiidu alladzii yamliku nafsahu 'indal ghadhabi.
Artinya: "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah." (HR. Bukhari)
Cara Simpel Dinginkan Hati yang Panas
Terus gimana caranya biar nggak meledak pas lagi hangry? Halalive punya beberapa langkah simpel yang diajarkan Nabi dan relevan buat kita terapkan sehari-hari:
Ubah Posisi Tubuh
Kalau kamu marah pas lagi berdiri, coba duduk. Kalau masih marah juga, berbaring atau sandaran rileks. Secara psikologis, mengubah posisi tubuh itu memecah fokus ketegangan otot. Jadi kalau lagi di kantor dan emosi baca chat grup, coba berdiri, jalan sebentar cari angin, baru balas chat-nya.
Aktifkan Mode Diam
Nabi bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam." Semakin banyak ngomong pas marah, semakin banyak penyesalan setelahnya. Kunci mulut rapat-rapat, tarik napas panjang, dan hitung sampai sepuluh sebelum merespons.
Dinginkan dengan Air Wudhu
Marah itu identik dengan panas (api). Api lawannya air. Kalau emosi udah di ubun-ubun, permisi sebentar ke toilet, ambil wudhu. Basuh muka dengan air dingin. Rasakan segarnya air yang menyentuh kulit, itu ampuh banget nurunin suhu tubuh dan hati yang mendidih.
Baca Ta'awudz
Baca A'udzu billahi minasy syaithanir rajim. Ini sinyal ke otak bawah sadar kita untuk minta perlindungan Allah dan nge-reset pikiran biar lebih jernih.
Yuk, Jadikan Puasa Kita Lebih Berkualitas
Sobat Halalive, sayang banget kan kalau kita sudah capek-capek nahan lapar dari Subuh sampai Maghrib, tapi pahalanya berkurang gara-gara kita "bocor alus" di emosi?
Nanti pas buka puasa, yang didapat cuma kenyang kolak, tapi catatan amalnya kurang maksimal.
Puasa itu paket lengkap. Nahan perut, nahan pandangan, sama nahan hati. Yuk, jadikan Ramadan ini ajang latihan mental. Kalau kamu berhasil nahan marah di jam-jam kritis (siang bolong atau jelang buka), berarti kamu keren banget.
Selamat menjalankan ibadah puasa dengan hati yang adem ya, Sobat Halalive!
Hal apa sih yang paling sering bikin kamu kepancing emosi pas lagi puasa? Macet? Kerjaan? Atau komentar netizen? Share di kolom komentar, dan kasih tahu cara kamu ngademinnya!
Sumber Rujukan
- Hadits tentang Puasa Perisai & Inni Shaimun (HR. Bukhari & Muslim): https://sunnah.com/bukhari:1894
- Hadits tentang Orang Kuat Menahan Marah (HR. Bukhari): https://sunnah.com/bukhari:6114
Tinggalkan Komentar
Komentar