periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive!
Pernah merasa insecure saat tidak sengaja membandingkan kualitas ibadah kita dengan orang lain? Teman-teman di media sosial sudah membagikan pencapaian tadarus Al-Qur'an mereka, rajin hadir di kajian, dan salat Tarawih satu bulan penuh tanpa putus.
Sementara kita? Boro-boro mau ke masjid, sampai rumah sepulang kerja saja rasanya punggung sudah mau rontok. Ujung-ujungnya hanya sanggup salat Isya lalu tertidur pulas saking lelahnya. Belum lagi kalau siang hari kita sempat emosi di jalan atau kelepasan membicarakan orang lain.
Lalu muncul bisikan kecemasan di dalam hati, "Ya Allah, puasa saya diterima tidak ya kalau isinya cuma kerja, tidur, dan marah-marah?"
Sobat Halalive, tarik napas pelan-pelan. Perasaan takut dan overthinking seperti ini adalah hal yang sangat manusiawi. Mari kita bahas dari sudut pandang yang lebih sejuk.
Merasa Kurang Itu Pertanda Baik
Percaya atau tidak, merasa cemas bahwa ibadah kita banyak kurangnya adalah sebuah anugerah. Ulama menyebut perasaan ini sebagai Khauf (rasa takut kepada Allah).
Coba bayangkan sebaliknya. Ada orang yang salatnya rajin, puasanya penuh, lalu dia merasa paling suci sedunia dan merendahkan orang lain. Penyakit hati bernama ujub (bangga diri) ini justru sangat berbahaya karena bisa menghapus pahala ibadah itu sendiri.
Maka, menyadari bahwa diri kita penuh kekurangan di hadapan Allah adalah bentuk kerendahan hati yang paling tulus. Hati yang merasa "hancur" karena menyadari kelemahannya justru sangat dicintai oleh Sang Pencipta.
Kecemasan yang Sama dari Sosok Mulia
Kamu tidak sendirian merasakan hal ini. Sosok semulia Sayyidah Aisyah (istri Rasulullah) ternyata pernah menanyakan hal serupa.
Suatu hari, Aisyah membaca firman Allah dalam Surah Al-Mu'minun ayat 60 yang menceritakan tentang orang-orang yang senantiasa berbuat baik namun hatinya bergetar:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
(Latin: Walladziina yu'tuuna maa aatau wa quluubuhum wajilatun annahum ilaa rabbihim raaji'uun)
Artinya: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka."
Aisyah lalu bertanya kepada Nabi, apakah mereka yang ketakutan itu adalah orang-orang yang bermaksiat seperti suka mencuri atau meminum khamr? Jawaban Rasulullah SAW sungguh menenangkan:
لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ
(Latin: Laa yaa bintash-shiddiiq, wa lakinnahumulladziina yashuumuuna wa yushalluuna wa yatashaddaquuna, wa hum yakhaafuuna an laa yuqbala minhum)
Artinya: "Bukan begitu wahai putri As-Shiddiq (Abu Bakar). Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, mendirikan salat, dan bersedekah, namun mereka merasa takut amalan tersebut tidak diterima dari mereka." (HR. Tirmidzi)
Ternyata, karakter orang beriman yang sejati adalah mereka yang sudah berusaha keras melakukan kebaikan, namun tetap merasa amalannya belum layak disandingkan dengan kebesaran Allah.
Cara Menambal Puasa yang Bolong-Bolong
Lalu, bagaimana cara menebus puasa kita yang kualitasnya mungkin jauh dari kata sempurna ini?
Para ulama terdahulu punya resep yang sangat indah, yaitu memperbanyak istighfar (memohon ampunan). Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin Muslim yang paling adil, selalu berpesan kepada rakyatnya agar menutup bulan puasa dengan istighfar dan sedekah.
Istighfar berfungsi sebagai penambal bagi kelalaian, ucapan sia-sia, dan emosi yang sempat terlepas saat kita berpuasa. Cukup rutinkan membaca istighfar pelan-pelan di waktu sahur atau di sela-sela menunggu adzan Maghrib berkumandang.
Allah Menghargai Usahamu
Sobat Halalive, kesempurnaan hanyalah milik Allah. Jangan menuntut dirimu untuk menjadi malaikat yang tidak punya rasa lelah dan tidak pernah berbuat salah.
Tugas kita hanyalah berusaha semampu yang kita bisa. Kalau hari ini baru sanggup baca Al-Qur'an satu ayat, bacalah dengan penuh cinta. Kalau hari ini belum sanggup Tarawih karena kelelahan mencari nafkah, tidurlah dengan niat mengistirahatkan badan agar besok kuat bekerja lagi.
Pelan-pelan saja. Selama kita tidak menyerah untuk terus memperbaiki diri, rahmat Allah selalu jauh lebih luas daripada tumpukan kesalahan kita.
Apa Tantangan Terberatmu?
Kita semua pasti punya momen jatuh bangun dalam menjaga semangat ibadah. Buat kamu, apa tantangan paling berat yang bikin puasamu rasanya kurang maksimal tahun ini? Apapun itu, tulisan ini adalah ruang aman buatmu. Tinggalkan cerita atau uneg-unegmu di kolom komentar, mari kita saling mendoakan dan menguatkan!
Sumber Rujukan:
- Surah Al-Mu'minun Ayat 60: https://quran.com/23/60
- Hadits Tirmidzi tentang rasa takut amal tidak diterima: https://sunnah.com/tirmidhi:3175
Tinggalkan Komentar
Komentar