periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive!
Pernah merasakan fenomena "muntaber" alias mundur tanpa berita di pertengahan bulan puasa? Shaf masjid yang awalnya penuh sampai ke area parkir, pelan-pelan mulai maju dan hanya menyisakan dua baris saja di minggu kedua.
Atau mungkin kita sendiri yang mengalaminya. Hari pertama puasa, semangat ibadah sedang menggebu-gebu. Target membaca Al-Qur'an satu hari satu juz, salat Tarawih penuh, ditambah bangun malam, dan sedekah setiap hari. Namun masuk hari kelima, badan terasa remuk, rasa malas menyerang, dan akhirnya semua target itu terbengkalai.
Sobat Halalive, semangat beribadah itu sangat bagus. Namun, kita sering lupa bahwa ibadah itu ibarat lari maraton, bukan lari sprint jarak pendek. Kalau semua energi dihabiskan di kilometer pertama, kita pasti kehabisan napas di tengah jalan.
Al-Qur'an Saja Turunnya Bertahap
Kalau kita perhatikan, konsep beragama dalam Islam sangat menghargai proses. Al-Qur'an yang menjadi pedoman utama kita saja tidak diturunkan sekaligus dalam satu malam kepada Rasulullah SAW.
Allah menurunkannya secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Bahkan, orang-orang kafir saat itu sempat memprotes hal ini, dan Allah langsung menjawabnya dalam Surah Al-Furqan ayat 32:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
(Latin: Wa qoolalladziina kafaruu law laa nuzzila 'alaihil qur'aanu jumlataw waahidah, kadzaalika linutsabbita bihii fu'aadaka wa rattalnaahu tartiilaa)
Artinya: "Dan orang-orang kafir berkata, 'Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?' Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)."
Hikmahnya sangat dalam. Sesuatu yang dicerna pelan-pelan akan lebih menguatkan hati dan lebih mudah diamalkan, dibandingkan sesuatu yang dijejalkan semuanya dalam satu waktu.
Kecil Tapi Konsisten Itu Lebih Keren
Kita sering merasa bersalah kalau ibadah kita sedikit. Rasanya insecure melihat orang lain bisa sedekah jutaan rupiah atau khatam berkali-kali. Padahal, Allah tidak menuntut kita untuk langsung menjadi sempurna dalam semalam.
Rasulullah SAW memberikan prinsip yang sangat membebaskan kita dari rasa lelah ini:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
(Latin: Aḥabbul a'māli ilallāhi ta'ālā adwamuhā wa in qalla)
Artinya: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berkelanjutan (rutin) walaupun itu sedikit." (HR. Muslim)
Membaca Al-Qur'an dua ayat sesudah salat tapi rutin dilakukan sebulan penuh, jauh lebih dicintai Allah daripada membaca tiga juz dalam satu hari lalu besoknya berhenti total karena kelelahan.
Nikmati Prosesnya
Ramadan adalah madrasah atau tempat kita belajar. Namanya belajar, pasti butuh waktu dan adaptasi. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kalau hari ini merasa lelah dan hanya sanggup mengerjakan yang wajib, tidak masalah. Beri waktu bagi tubuh dan batinmu untuk menyesuaikan diri.
Mulailah dari langkah kecil yang paling mudah kamu lakukan. Niatkan untuk mempertahankannya. Biarkan imanmu tumbuh perlahan seperti tanaman yang disiram sedikit demi sedikit setiap hari, bukan langsung diguyur air satu ember besar hingga akarnya membusuk.
Mari Berbagi Langkah Kecilmu
Sobat Halalive, kebiasaan baik apa yang sedang kamu coba bangun pelan-pelan di Ramadan tahun ini? Mungkin sekadar membiasakan salat tepat waktu, atau belajar menahan emosi saat macet di jalan? Tuliskan langkah kecilmu di kolom komentar, mari kita saling merangkul dan menguatkan agar bisa tetap konsisten sampai garis akhir!
Sumber Rujukan:
- Surah Al-Furqan Ayat 32: https://quran.com/25/32
- Hadits Muslim tentang amalan yang rutin: https://sunnah.com/muslim:783
Tinggalkan Komentar
Komentar