Periskop.id - Sejumlah massa yang didominasi ibu rumah tangga menggelar aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Rabu (17/6), untuk menyampaikan dukungan terhadap keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Massa aksi yang disebut berasal dari Jakarta Timur itu berkumpul sejak siang. Berdasarkan pantauan di lokasi sekitar pukul 12.30 WIB, mereka mengenakan pakaian berwarna putih dan membawa poster serta spanduk berisi dukungan terhadap program MBG. Sebagian poster juga memuat pesan terkait penindakan terhadap koruptor.

Advertisement

Di tengah lokasi aksi, satu mobil komando berupa kendaraan bak terbuka terlihat terparkir dan dibungkus spanduk besar bertuliskan tujuan aksi. Aksi penyampaian pendapat tersebut berlangsung aman dengan pengawalan aparat di sekitar kawasan Patung Kuda.

Dukungan dari kelompok ibu rumah tangga ini menunjukkan bahwa MBG tidak hanya dilihat sebagai program makan di sekolah, tetapi juga berkaitan langsung dengan beban pengeluaran keluarga, kebiasaan sarapan anak, dan rasa aman orang tua ketika anak berada di sekolah.

Salah seorang warga asal Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Suhartini, mengatakan program MBG membantu anaknya yang duduk di kelas 1 SMP. Menurut dia, anaknya sering tidak sempat sarapan di rumah, sehingga makanan yang diterima di sekolah menjadi sempat sarapan di rumah, sehingga makanan yang diter sangat membantu.

"Anak saya kebetulan jarang sarapan di rumah. Jadi dengan adanya program MBG ini, anak bisa langsung makan di sekolah bersama teman-temannya," ujar Suhartini saat ditemui di lokasi aksi, seperti dilansir Antara

Suhartini menilai program tersebut dapat membantu orang tua memastikan anak tetap mendapat makanan saat berada di sekolah. Ia menyebut menu yang diterima anaknya cukup beragam dari hari ke hari.

Meski mendukung keberlanjutan MBG, Suhartini tetap memberi masukan agar menu ke depan dibuat lebih variatif, praktis, dan tetap memperhatikan nilai gizi. Menurut dia, makanan yang disukai anak dapat membuat program lebih efektif karena peluang makanan habis dikonsumsi menjadi lebih besar.

"Harapan saya ke depan menunya bisa lebih variatif dan praktis, seperti makanan kering, roti, burger, atau susu yang disukai anak-anak namun tetap terpenuhi nilai gizinya," tambahnya.

Warga lainnya, Nur, juga menyampaikan dukungan terhadap MBG karena dinilai membantu mengurangi pengeluaran harian keluarga. 

Namun, ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan skema pelibatan orang tua murid dalam pengelolaan makanan. "Program ini sebenarnya sangat bagus karena anak-anak dapat makan gratis. Namun, akan lebih optimal lagi jika ke depannya ada skema di mana orang tua dilibatkan langsung dalam memasak atau mengelola anggarannya, agar menu yang disajikan bisa lebih sesuai dengan selera anak," tutur Nur.

Masukan Nur memperlihatkan salah satu persoalan penting dalam pelaksanaan MBG, yakni bagaimana memastikan makanan bergizi yang disediakan benar-benar dimakan anak. Dalam praktiknya, menu yang sehat tetap perlu disesuaikan dengan kebiasaan makan, selera, usia, dan kondisi anak agar tidak banyak terbuang.

Aspirasi itu juga sejalan dengan perdebatan publik mengenai tata kelola MBG. Di satu sisi, program ini dinilai membantu keluarga dan anak sekolah. Di sisi lain, pemerintah tetap dituntut memperbaiki standar menu, kualitas bahan pangan, keamanan makanan, distribusi, serta pelibatan masyarakat sekitar.

Puluhan Juta Penerima Manfaat MBG
Program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional menargetkan program ini menjangkau puluhan juta penerima manfaat, termasuk anak sekolah, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok penerima lain sesuai kebijakan yang berlaku.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Badan Gizi Nasional menyebut target penerima MBG pada 2026 mencapai 82,9 juta anak Indonesia. Belakangan, pemerintah menyebut program MBG terus dievaluasi. Badan Komunikasi Pemerintah sebelumnya menyatakan anggaran MBG tahun 2026 sebesar Rp268 triliun dan penyesuaian anggaran tersebut merupakan bagian dari evaluasi implementasi program.

"Pemerintah berterima kasih atas kritik dan saran dari masyarakat, seperti kita saksikan setiap hari perbaikan MBG terus berjalan. Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2026 itu Rp268 triliun, jadi bukan lagi Rp335 triliun. Ini bentuk evaluasi dari implementasi MBG," kata Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI Hariqo Wibawa Satria.

Dengan skala penerima manfaat yang besar, MBG tidak hanya berdampak pada anak sekolah dan keluarga, tetapi juga pada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG, pemasok bahan pangan, pekerja dapur, petani, peternak, dan pelaku usaha lokal.

Riset Universitas Indonesia juga menemukan, MBG mendapat respons positif dari masyarakat menengah ke bawah. Peneliti Sosiologi FISIP UI Hari Nugroho menyebut sebagian besar orang tua menilai program tersebut membantu meringankan beban ekonomi keluarga.

"Sebagian besar orang tua siswa memberikan penilaian positif terhadap program tersebut. Mereka menilai MBG mampu meringankan beban ekonomi keluarga, menghemat uang jajan anak, membantu orang tua yang sibuk menyiapkan makanan, serta mencegah anak mengalami kelaparan di sekolah," imbuhnya. 

Meski begitu, penelitian tersebut juga menyoroti tantangan tata kelola, distribusi makanan, desain program, dan penentuan penerima manfaat. Artinya, dukungan publik terhadap MBG tetap perlu diikuti perbaikan sistem agar manfaat program tidak terganggu oleh masalah teknis di lapangan.

Usulan agar orang tua dilibatkan juga pernah disampaikan dalam pemberitaan ANTARA terkait efek ekonomi MBG. Peneliti Center of Reform on Economics Indonesia Eliza Mardian menilai, keterlibatan orang tua dan komunitas lokal dapat membantu mengurangi makanan terbuang serta memperkuat pengawasan.

"Dengan adanya MBG ini, akan menambah peluang tenaga kerja dan perlu keterlibatan orang tua dalam bentuk komunitas di wilayah lokal. Jadi ada pengawasan dari orang tua dan guru agar anak-anak menghabiskan makanan, sehingga gizinya terpenuhi," ucap Eliza.

Pernyataan tersebut sejalan dengan aspirasi yang muncul dalam aksi ibu rumah tangga di Patung Kuda. Para orang tua tidak hanya meminta program dilanjutkan, tetapi juga ingin program lebih sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.

Dari sisi ekonomi rumah tangga, MBG memang dapat membantu mengurangi biaya bekal atau uang jajan. Bagi keluarga dengan lebih dari satu anak sekolah, pengeluaran harian untuk makanan dan jajan bisa menjadi beban rutin. Karena itu, makanan bergizi di sekolah dapat memberi ruang napas bagi sebagian orang tua.

Namun, penghematan biaya bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Program ini harus memastikan makanan yang diberikan aman, layak, bergizi, tepat waktu, dan sesuai kebutuhan penerima. Jika makanan tidak disukai anak atau tidak habis, tujuan pemenuhan gizi bisa tidak optimal.

Karena itu, masukan mengenai variasi menu menjadi penting. Makanan yang praktis dan disukai anak tidak otomatis buruk selama tetap memenuhi standar gizi. Pemerintah dapat menyesuaikan menu dengan usia, daerah, kebiasaan makan, serta ketersediaan pangan lokal.

Pada saat yang sama, pemerintah perlu berhati-hati agar menu tidak sekadar mengikuti selera anak tanpa memperhatikan nilai gizi. Makanan seperti roti, susu, atau menu praktis lain dapat menjadi bagian dari variasi, tetapi tetap perlu dihitung kandungan energi, protein, vitamin, mineral, dan keamanan pangannya.

Pelibatan orang tua juga dapat membantu memetakan masalah di lapangan. Orang tua mengetahui apakah anak makan dengan lahap, apakah ada menu yang sering tidak dihabiskan, apakah porsi sesuai, dan apakah distribusi makanan tiba tepat waktu. Informasi semacam ini dapat menjadi bahan evaluasi harian bagi sekolah, dapur SPPG, dan pemerintah.

Selain itu, pelibatan warga lokal dapat memperkuat dampak ekonomi MBG. Dapur SPPG membutuhkan pekerja, bahan pangan, distribusi, dan pengelolaan operasional. Jika masyarakat sekitar dilibatkan secara tertib dan sesuai standar, program ini dapat membuka peluang kerja sekaligus menjaga kedekatan dengan penerima manfaat.

Pekerja Dapur SPPG
Sebelumnya, sejumlah pekerja dapur SPPG berharap MBG berlanjut karena menjadi sumber mata pencaharian mereka. Salah seorang pekerja, Fania Lingga, mengatakan pendapatannya dari dapur MBG membantu menghidupi anaknya.

“Alhamdulillah betah. Kerjanya juga enggak terlalu berat. Di sini nyaman, sudah kayak keluarga sendiri,” ujarnya dalam pernyataan tertulis yang disiarkan oleh Presidential Communication Office (PCO) di Jakarta, Rabu.

Fania juga menyampaikan kekhawatiran jika program tersebut berhenti karena pekerjaan di dapur MBG menjadi tumpuan kehidupannya.

“Pastinya sedih ya kalau MBG berhenti. Karena MBG ini justru banyak didukung. Banyak orang tua yang ingin program ini ada. Buat saya pribadi, saya enggak tahu bisa cari kerja di mana lagi. Karena cuma di sini saya bisa ditampung,” imbuhnya.

Cerita pekerja SPPG tersebut memperlihatkan bahwa MBG memiliki efek berlapis. Program ini menyasar pemenuhan gizi anak, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi baru di sekitar dapur, sekolah, dan rantai pasok pangan.

Karena itu, aksi ibu rumah tangga di Patung Kuda dapat dibaca sebagai bagian dari suara penerima manfaat langsung. Mereka mendukung keberlanjutan program karena merasakan dampaknya pada kehidupan sehari-hari, tetapi juga meminta perbaikan agar program tidak berhenti pada pembagian makanan.

Bagi pemerintah, dukungan semacam ini bisa menjadi modal sosial. Namun, dukungan publik tidak boleh membuat evaluasi berhenti. Semakin besar skala MBG, semakin besar pula kebutuhan pengawasan, keterbukaan data, standar keamanan pangan, dan mekanisme aduan.

Program sebesar MBG membutuhkan tata kelola yang ketat. Setiap dapur harus memenuhi standar kebersihan, bahan baku harus aman, distribusi harus tepat waktu, pekerja harus dilatih, dan sekolah perlu memiliki mekanisme pemantauan. Jika ada keluhan dari siswa atau orang tua, respons perlu dilakukan cepat.

Aspirasi ibu rumah tangga di Patung Kuda juga menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah. Pemerintah tidak cukup menyampaikan capaian jumlah penerima manfaat, tetapi juga perlu mendengar pengalaman keluarga, sekolah, dan pekerja dapur. Dari pengalaman harian inilah kualitas program dapat terus diperbaiki.

Pada akhirnya, aksi dukungan di Patung Kuda memperlihatkan bahwa MBG telah menjadi isu yang dekat dengan kehidupan keluarga. Bagi sebagian ibu rumah tangga, program ini membantu anak yang jarang sarapan dan meringankan pengeluaran. Namun, mereka juga berharap menu lebih bervariasi, praktis, disukai anak, dan tetap bergizi.

Keberlanjutan MBG kini tidak hanya bergantung pada anggaran dan target penerima manfaat. Keberhasilannya akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga kualitas, melibatkan orang tua, memperkuat pengawasan, dan memastikan makanan yang diberikan benar-benar sampai pada tujuan utama: anak kenyang, sehat, dan belajar dengan lebih baik.