periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive.

Gema takbir perlahan mulai terdengar, menandakan bulan suci yang kita cintai ini akan segera melipat tikarnya. Ada perasaan campur aduk di dalam dada. 

Di satu sisi, ada kebahagiaan menyambut hari kemenangan. Namun di sudut hati yang lain, ada rasa kehilangan yang diam-diam menyelinap.

Hanya dalam hitungan jam, rutinitas kita akan berubah drastis. Tidak ada lagi alarm sahur yang berisik, tidak ada lagi rutinitas Tarawih yang bikin betis pegal tapi hati tenang, dan aplikasi habit tracker tadarus kita mungkin akan mulai kehilangan centang hijaunya.

Di titik transisi inilah, sebuah pertanyaan besar menampar kesadaran kita: "Ramadan pergi, lalu kita kembali jadi siapa?"

Apakah kita akan kembali menjadi versi diri kita yang jauh dari sajadah? Apakah Al-Qur'an yang sebulan ini rajin kita sentuh akan kembali masuk ke dalam lemari hingga tahun depan? Yuk, kita renungkan sejenak.

Menyembah Suasana vs Menyembah Pemiliknya

Sobat Halalive, wajar banget kok kalau grafik ibadah kita agak menurun setelah Lebaran. Kita ini manusia biasa yang gampang lelah dan punya banyak urusan duniawi, bukan malaikat yang diciptakan murni hanya untuk beribadah.

Tapi, tantangan sebenarnya justru baru dimulai setelah peluit panjang Ramadan ditiup. Jangan sampai kita terjebak hanya "menyembah" suasana seru dan syahdunya bulan Ramadan, lalu perlahan melupakan Pemilik bulan tersebut saat kembali ke rutinitas normal.

Kalau direnungkan lagi, Tuhan yang kita mohon-mohon ampunannya di malam Lailatul Qadar adalah Tuhan yang sama yang akan mengawasi kita saat kembali meeting di kantor pada bulan Syawal. Kasih sayang-Nya tidak ikut "mudik" seiring perginya Ramadan.

Indikator Puasa Diterima: Istiqamah Meski Sedikit

Lalu, apa tolok ukur bahwa puasa dan ibadah kita selama sebulan ini sukses atau diterima oleh Allah SWT? Ulama Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan secara indah, bahwa salah satu tanda diterimanya amal kebaikan adalah lahirnya amal kebaikan lain setelahnya. Artinya, kita perlahan menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan berakhir.

Tidak perlu memaksakan diri mempertahankan target 1 juz sehari kalau realitanya jadwal kerjamu kembali padat merayap. Islam itu agama yang memanusiakan manusia dan sangat menghargai proses yang berkelanjutan (istiqamah).

Rasulullah SAW pernah menegaskan prinsip ini kepada sang istri, Aisyah ra.: أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (Ahabbul a’maali ilallahi ta’aalaa adwamuhaa wa in qalla) Artinya: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu (terus-menerus) walaupun itu sedikit." (HR. Muslim no. 783).

Bawa "Oleh-Oleh" dari Madrasah Ramadan

Ibarat sebuah pusat pelatihan mental dan spiritual (madrasah), sungguh sayang kalau kita lulus dari Ramadan tanpa membawa kebiasaan baru. Mari kita pilih satu atau dua "oleh-oleh" ibadah ringan yang sanggup kita genggam erat-erat di luar bulan puasa.

  • Jika kemarin kamu sanggup Tahajud 8 rakaat karena sekalian nunggu imsak, pertahankanlah sekadar 2 rakaat saja sebelum azan Subuh.
  • Jika kemarin kamu jor-joran sedekah ratusan ribu, pertahankanlah kebiasaan sedekah Subuh Rp5.000 setiap hari.
  • Jika kemarin lisanmu bisa menahan ghibah karena takut batal puasa, pertahankanlah "rem" lisan itu saat kembali nongkrong dengan teman-teman nanti.

Ramadan memang pasti pergi, karena ia hanya tamu. Tapi Allah tidak pernah pergi, dan pintu taubat-Nya tidak pernah tutup.

Kalau boleh jujur, satu kebiasaan baik apa dari Ramadan ini yang paling ingin Sobat Halalive pertahankan setelah Lebaran nanti? Yuk, tuliskan di kolom komentar sebagai pengingat buat diri sendiri, dan mari kita aminkan bersama-sama! 👇

Sumber Rujukan: 

  1. Hadits tentang amalan yang kontinu meski sedikit (HR. Muslim): https://sunnah.com/muslim:783b