Periskop.id - Menteri Perang AS Pete Hegseth kembali menegaskan rencana AS untuk menempatkan senjata di luar angkasa, melalui proyek rudal Golden Dome.

"Golden Dome untuk Amerika, sebuah inisiatif revolusioner berupa senjata dan sensor berbasis antariksa, konstelasi terfokus dari sensor dan satelit generasi berikutnya yang akan melihat setiap ancaman dari setiap sudut dunia," kata Hegseth dalam pidatonya di Colorado dikutip Selasa (24/2). 

Pada Mei 2025, Presiden AS Donald Trump meluncurkan proyek Golden Dome, yang diperkirakan menelan biaya hampir US$175 miliar (sekitar Rp2,94 kuadriliun).

Inisiatif pertahanan berlapis tersebut akan mengintegrasikan sistem darat, laut, dan ruang angkasa untuk melindungi AS dari ancaman rudal. Uji coba besar pertama dilaporkan dijadwalkan pada akhir 2028.

Namun, kantor berita Bloomberg melaporkan, menurut penilaian para ahli, Golden Dome tersebut akan menelan biaya US$1,1 triliun (sekitar Rp18,5 kuadriliun).

Trump sebelumya mengaku sudah memilih “arsitektur” untuk program Golden Dome dalam tiga tahun ke depan. “Golden Dome (Kubah Emas) akan terintegrasi dengan sistem pertahanan yang telah kita miliki dan akan sepenuhnya beroperasi sebelum akhir masa jabatan saya -- jadi kita akan menyelesaikannya dalam waktu sekitar tiga tahun,” ujar Trump kala itu. 

“Begitu selesai dibangun, Golden Dome akan mampu mencegat rudal, bahkan jika diluncurkan dari sisi lain dunia, atau bahkan dari luar angkasa. Ini akan menjadi sistem pertahanan terbaik yang pernah dibuat," tuturnya. 

Trump menunjuk Jenderal Angkatan Luar Angkasa, Michael Guetlein, untuk memimpin pengembangan proyek ini. Ketika ditanya apakah program ini merupakan permintaan militer, Trump menjawab, ia yang mengusulkan, dan “semua komandan bilang, ‘Kami menyukai ide ini, Pak.’”

Masih belum jelas apakah sistem Golden Dome akan dirancang untuk melindungi seluruh wilayah AS atau hanya fokus pada pusat-pusat populasi besar dan kawasan strategis lainnya. Namun, Trump menyebut bahwa Kanada telah menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dalam program ini.

Perlombaan Senjata Antariksa
Merespon hal tersebut, Pemerintah China menegaskan rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memulai program pertahanan rudal "Golden Dome" berbasis satelit luar angkasa, dapat mendorong perlombaan senjata antariksa.

"Proyek tersebut akan meningkatkan risiko mengubah angkasa menjadi zona perang dan menciptakan perlombaan senjata antariksa, serta mengguncang sistem keamanan dan pengendalian senjata internasional," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning.

Mao Ning menyebut sistem ini akan memperluas persenjataan AS untuk operasi tempur di luar angkasa. Termasuk penelitian dan pengembangan senjata serta penyebaran sistem intersepsi orbital.

"Hal tersebut membuat proyek tersebut memiliki sifat ofensif yang kuat dan melanggar prinsip penggunaan damai dalam Perjanjian Luar Angkasa," kata Mao Ning.

Tindakan Trump itu disebut Mao Ning sebagai inisiatif "America First" lainnya yang menempatkan keamanan mutlak AS di atas segalanya.

"Hal ini melanggar prinsip undiminished security for all (keamanan tanpa terkecuali) dan akan merusak keseimbangan dan stabilitas strategis global. China sangat khawatir," tegas Mao Ning.

China, ungkap Mao Ning, mendesak AS untuk menghentikan pengembangan dan pengerahan sistem antirudal global. Lalu mengambil tindakan konkret untuk meningkatkan kepercayaan strategis antara negara-negara besar dan menegakkan stabilitas strategis global.