periskop.id - Project Director INPEX Masela, Harrad Blinco, menegaskan proyek LNG Blok Masela bukan sekadar proyek migas biasa, melainkan proyek berskala dunia yang menghadapi persaingan global dan tantangan biaya besar.
Karena itu, Blinco menilai dukungan pemerintah dinilai krusial agar proyek strategis tersebut dapat berjalan sesuai target.
"Blok Masela berada di Indonesia bagian timur. Jadi kami sangat menyadari bahwa kami bukan hanya mengembangkan proyek LNG, tetapi juga mengembangkan sebuah wilayah di Indonesia," ujar Blinco dalam sidang Debottlenecking, Jakarta, Selasa (24/2).
Proyek yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2017 itu berlokasi di laut dalam dengan kedalaman sekitar 800 meter dan berada di wilayah yang sangat terpencil serta minim infrastruktur. Kondisi tersebut, menurutnya membuat proses konstruksi menjadi sangat menantang.
Dari sisi investasi, Blincot menyatakan bahwa nilai belanja modal (capital expenditure/capex) proyek ini diperkirakan mencapai lebih dari US$20 miliar. Namun, tekanan inflasi global dan dinamika pasar internasional berpotensi mendorong angka tersebut lebih tinggi saat proses tender berlangsung.
"Nilai belanja modal (capital expenditure) proyek ini diperkirakan lebih dari US$20 miliar. Namun, dengan adanya tekanan global dan tekanan inflasi, kami memperkirakan angka US$20 miliar tersebut bisa saja meningkat saat proses penawaran (bidding) berlangsung," jelas Blinco.
Blok Masela ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), ditambah penyaluran gas domestik sebesar 150 MMSCFD dan produksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari. Proyek ini juga mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna menghasilkan LNG rendah emisi, sejalan dengan tuntutan pasar global.
Dalam pengembangannya, proyek ini melibatkan 11 sumur subsea yang terhubung ke fasilitas FPSO (Floating Production Storage and Offloading) untuk pemrosesan awal gas sebelum dialirkan melalui pipa sepanjang 180 kilometer menuju kilang LNG di Pulau Yamdena, dekat Saumlaki.
Blinco menekankan bahwa tantangan proyek ini bukan hanya domestik, melainkan juga internasional. Menurutnya, INPEX harus bersaing dengan Amerika Serikat dan negara-negara Timur Tengah yang saat ini juga agresif mengembangkan proyek LNG untuk mendapatkan kontraktor dan pemasok global.
"Artinya, kami harus bersaing dengan Amerika Serikat dan Timur Tengah untuk mendapatkan kontraktor dan sumber daya yang sama. Untuk mengembangkan proyek sebesar ini, kami bersaing di tingkat global," terangnya.
Ia pun berharap pemerintah dapat membantu melalui penyederhanaan regulasi dan percepatan proses perizinan, sehingga kontraktor dapat masuk dan membangun proyek secara lebih cepat dan efisien dari sisi biaya.
"Misalnya dari sisi regulasi, bagaimana regulasi dapat disederhanakan atau dipermudah agar para kontraktor dapat masuk dan membangun proyek ini dengan lebih cepat dan biaya yang lebih efisien. Itu yang ingin kami capai," Blinco mengakhiri.
Tinggalkan Komentar
Komentar