Periskop.id - Pemerintah Israel secara tegas menyatakan tidak akan memberikan kontribusi finansial dalam upaya rekonstruksi Jalur Gaza melalui lembaga "Board of Peace" yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. 

Penegasan ini memicu diskusi hangat mengenai mekanisme pendanaan pemulihan wilayah konflik tersebut.

Menteri kedua di Kementerian Keuangan Israel, Ze’ev Elkin, menyampaikan posisi resmi tersebut dalam wawancara dengan radio lokal, Kan Reshet Bet pada Minggu (22/2). 

Elkin, yang juga merupakan anggota Kabinet Keamanan Yerusalem, menekankan bahwa Israel tidak melihat adanya urgensi untuk mendanai organisasi internasional tersebut.

"Kami tidak akan mendanai Board of Peace; tidak ada alasan untuk itu," ujar Elkin kepada saluran negara Kan Reshet Bet sebagaimana dikutip oleh JNS, Minggu (22/2).

Lebih lanjut, Elkin mengaitkan keputusan ini dengan serangan lintas perbatasan yang dipimpin oleh Hamas pada 7 Oktober 2023. Menurutnya, sebagai pihak yang diserang, Israel tidak memiliki kewajiban moral maupun finansial untuk membiayai pembangunan kembali wilayah lawan.

"Kami diserang. Tidak ada alasan bagi kami untuk membayar rekonstruksi," tegas Elkin.

Berdasarkan laporan Kan News, pemerintahan Donald Trump memberikan dispensasi khusus bagi Israel. Negara Yahudi tersebut diizinkan bergabung dengan Board of Peace tanpa harus menyumbang pada upaya rekonstruksi maupun menanggung biaya operasional organisasi.

Kondisi ini berbeda jauh dengan anggota lain seperti Qatar dan Uni Emirat Arab yang masing-masing telah menyetor dana lebih dari US$1 miliar ke dalam dewan tersebut. 

Pengecualian pembayaran ini dikabarkan menjadi strategi politik untuk meredakan tekanan domestik terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. 

Sebelumnya, Netanyahu menuai kritik tajam karena setuju bergabung dalam satu wadah bersama negara-negara yang dianggap bermusuhan, seperti Qatar dan Turki.

Di sisi lain, pihak Amerika Serikat melalui utusan khusus Steve Witkoff menyatakan optimisme tinggi terhadap masa depan Gaza. 

Dalam program My View with Lara Trump di Fox News, Witkoff menyebut bahwa rencana perdamaian Trump dirancang untuk membuat Gaza siap mengalami kebangkitan kembali.

"Dana sebesar US$17 miliar (termasuk US$10 miliar dari AS) yang dihimpun oleh Board of Peace akan menjadi dorongan awal bagi kami," ungkap Witkoff.

Witkoff menjelaskan bahwa dana besar tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur masif. 

"Kami akan membangun perumahan dan transportasi massal, serta membersihkan dan merobohkan seluruh area di sana agar siap untuk kebangkitan," tambahnya.

Presiden Donald Trump sendiri telah memberikan peringatan keras dalam pertemuan perdana Board of Peace. Ia meyakini Hamas akan meletakkan senjata di bawah skema rencana ini. 

Namun, ia juga mengancam bahwa kelompok tersebut akan menghadapi respons yang sangat keras jika memilih untuk menolak.

Sejauh ini, tantangan besar masih membayangi. Sejumlah pemimpin senior Hamas, termasuk Khaled Mashaal dan Musa Abu Marzouk, dilaporkan menolak poin-poin kunci dalam rencana perdamaian tersebut, terutama terkait isu pelucutan senjata. Padahal, sebelumnya mereka sempat dikabarkan memberikan persetujuan pada Oktober lalu.

Para pejabat Board of Peace tetap pada pendirian awal bahwa proses rekonstruksi fisik hanya akan dimulai setelah proses demiliterisasi Gaza selesai sepenuhnya. Pelucutan senjata Hamas menjadi syarat mutlak agar wilayah tersebut tidak lagi menjadi ancaman bagi keamanan Israel di masa depan.