periskop.id - Israel dan Iran sama-sama mengumumkan penghentian sementara serangan, setelah dua negara itu kembali saling menyerang untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata April lalu. Meski begitu, kedua pihak menegaskan siap membalas jika kembali diserang.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan babak serangan kali ini telah berakhir. Ia menegaskan pasukannya tetap bersiaga penuh dan tidak akan tinggal diam bila Israel kembali dijadikan sasaran.

Advertisement

"Jika Iran membuat kesalahan dan kembali menyerang kami, kami akan merespons dengan kekuatan," kata Netanyahu dalam rekaman pernyataan resmi.

Komando gabungan militer Iran pun mendeklarasikan penghentian operasi ofensifnya. Pengumuman itu muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan penghentian segera pertempuran antara kedua negara.

Iran memperingatkan setiap "agresi dan tindakan permusuhan" lebih lanjut dari Israel maupun sekutunya, termasuk di Lebanon selatan, bakal dibalas dengan tindakan yang "lebih keras dan menghancurkan." Peringatan itu dikeluarkan militer Iran bersamaan dengan pengumuman penghentian operasinya.

Di Lebanon, dampak serangan masih terasa nyata meski jeda sudah dinyatakan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas dalam serangan udara di desa Zefta, termasuk seorang anak asal Suriah, sementara delapan lainnya mengalami luka-luka.

Serangan terpisah di kota pesisir Tyre menewaskan lima orang dan melukai delapan lainnya, termasuk sejumlah anggota Palang Merah Lebanon. Netanyahu sebelumnya menegaskan operasi militer Israel terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon akan terus berjalan.

Sebagai sinyal meredanya ketegangan, sejumlah pembatasan keamanan mulai dicabut. Militer Israel mengumumkan sebagian besar sekolah yang sempat ditutup akan segera dibuka kembali. Kantor berita resmi Iran, Mizan, melaporkan larangan terbang untuk penerbangan sipil di wilayah udara Iran juga telah dihapus.

Kendati demikian, Iran masih mempertahankan blokade ketat atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia. Ancaman gangguan di jalur strategis itu dinilai sebagai salah satu pemicu utama lonjakan harga energi global selama beberapa bulan terakhir.

Tekanan diplomatik mengalir dari berbagai penjuru. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyerukan semua pihak menahan diri dan membuka ruang bagi proses perdamaian. Dua pejabat regional mengungkapkan, Mesir, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Qatar telah mendesak pemerintahan Trump menekan Israel agar menghentikan serangan terhadap Iran dan Beirut, sekaligus meminta Teheran menghentikan serangannya terhadap Israel.

Konflik ini bermula sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, harga energi dunia melonjak dan biaya berbagai kebutuhan pokok ikut terkerek. Upaya diplomatik untuk mengubah gencatan senjata April menjadi kesepakatan damai permanen pun hingga kini belum membuahkan hasil.

"Kami berharap kedua pihak dapat segera mencapai suatu kesimpulan," ujar Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Amir Saeid Iravani usai menghadiri sidang Dewan Keamanan PBB.