periskop.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (14/6) mengejutkan dunia dengan pengumuman bahwa kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah rampung. Melalui platform Truth Social, Trump menyampaikan bahwa jalur vital Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa pungutan biaya, sekaligus mencabut blokade angkatan laut AS yang selama ini menimbulkan ketegangan di kawasan Teluk.

“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak!” tulis Trump. 

Advertisement

Ia menambahkan, “Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, dan pada saat yang sama mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat.”

Trump bahkan mengisyaratkan dimulainya kembali arus perdagangan energi melalui jalur perairan strategis tersebut. “Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!” serunya. Meski demikian, ia tidak merinci isi kesepakatan maupun mekanisme pelaksanaannya.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur perairan paling strategis di dunia. Menurut data Energy Information Administration (EIA), lebih dari 20 persen pasokan minyak global melewati selat ini setiap harinya. Ketegangan di kawasan tersebut kerap memicu gejolak harga energi internasional, sehingga keputusan Trump membuka kembali jalur ini berpotensi menenangkan pasar minyak dunia.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Senin dini hari turut mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai setelah melalui perundingan intensif. 

“Setelah pembicaraan yang intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah tercapai,” tulis Sharif di platform X.

Ia menegaskan bahwa kedua pihak sepakat menghentikan seluruh operasi militer di berbagai front, termasuk di Lebanon. Menurut Sharif, penandatanganan resmi kesepakatan damai dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni di Swiss, sebuah lokasi yang kerap dipilih sebagai tuan rumah perundingan internasional karena netralitasnya.

Kesepakatan ini, jika benar-benar terlaksana, akan menjadi salah satu titik balik penting dalam hubungan AS–Iran yang selama puluhan tahun diwarnai konflik, sanksi ekonomi, dan perselisihan geopolitik.