periskop.id - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang baru serangan militer terhadap Iran. Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa perang dapat berlangsung lebih lama dan berpotensi mengganggu pasokan energi global dalam jangka panjang.

Dilansir dari CNBC, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik 2,94% menjadi US$92,68 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus yang menjadi acuan internasional menguat menjadi US$95,45 per barel.

Advertisement

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui unggahan di platform X menyatakan bahwa pasukan AS telah memulai serangan tambahan terhadap sejumlah target di Iran pada pukul 17.15 waktu setempat atas arahan Panglima Tertinggi.

"Operasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut," tulis CENTCOM.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan kapal-kapal militer AS yang beroperasi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan meningkatkan respons militernya terhadap Iran. Meski demikian, Trump tetap mendorong Teheran untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat guna meredakan ketegangan.

Kenaikan harga minyak mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia.

Meski konflik semakin memanas, Rystad Energy menilai pasar minyak saat ini berada dalam posisi yang lebih kuat untuk menghadapi potensi gangguan pasokan dibandingkan krisis sebelumnya.

Hal itu didukung oleh rekor ekspor minyak mentah Amerika Serikat, melemahnya permintaan dari China, serta tersedianya jalur ekspor alternatif yang mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

Namun demikian, Wakil Presiden Senior Rystad Energy Jorge Leon mengingatkan bahwa peluang tercapainya solusi diplomatik dalam waktu dekat semakin mengecil.

Kondisi tersebut membuat harga minyak tetap rentan terhadap gejolak tajam seiring investor terus mencermati apakah konflik akan tetap terbatas atau berkembang menjadi perang yang lebih berkepanjangan.

"Pasar akan terus bereaksi terhadap setiap perkembangan konflik karena ketidakpastian geopolitik masih sangat tinggi," ujar Leon.