periskop.id - Angkatan Laut Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran menyatakan Selat Hormuz kini ditutup untuk seluruh jenis kapal. Setiap kapal yang berani mendekati selat tersebut akan dianggap sedang berkolaborasi dengan musuh.

Penutupan jalur pelayaran itu sebelumnya diumumkan oleh Khatam al-Anbiya Central Headquarters, yang menyebutnya berlaku untuk semua kapal tanker minyak maupun kapal dagang. Kebijakan tersebut diambil menyusul serangan terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Advertisement

"Kami memperingatkan bahwa tidak ada kapal yang boleh meninggalkan pelabuhan di Teluk Persia maupun Teluk Oman. Mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai bentuk kolaborasi dengan musuh," demikian pernyataan IRGC yang dikutip kantor berita Iran, Fars, Kamis (11/6).

Ancaman IRGC bukan sekadar peringatan simbolis. Pihaknya menegaskan setiap kapal yang nekat mencoba melintasi selat itu akan langsung diserang.

Ketegangan ini pecah setelah Presiden AS Donald Trump pada Rabu menuding Teheran sengaja menghambat jalannya perundingan. Trump kemudian menyatakan AS berencana melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran.

Pada Kamis pagi, sejumlah ledakan dilaporkan mengguncang wilayah selatan Iran. Media setempat menyebut suara ledakan terdengar di kota Minab dan Mohr.

Tiga ledakan dilaporkan meledak di Bandar Abbas, sementara empat ledakan lain terjadi di Sirik. Sistem pertahanan udara Iran dilaporkan turut diaktifkan di Teheran serta di berbagai titik di wilayah selatan negara tersebut.

Situasi ini menandai babak baru dalam eskalasi konflik Iran-AS yang makin memanas. Penutupan Selat Hormuz oleh Khatam al-Anbiya Central Headquarters dipertegas dengan peringatan keras IRGC yang menyasar semua kapal, tanpa terkecuali.

Ketegangan antara kedua negara telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir, dengan perundingan yang disebut Trump mandek di pihak Iran. Langkah penutupan selat ini dinilai sebagai respons langsung atas tekanan militer dan diplomatik yang dilancarkan Washington.

Laporan soal ledakan di berbagai kota Iran memperkuat sinyal bahwa situasi di lapangan terus berubah cepat. Kondisi di sekitar Selat Hormuz saat ini menjadi perhatian dunia, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling vital di kawasan Timur Tengah.