periskop.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah pecahnya konflik bersenjata antara AS-Israel dengan Iran. Serangan militer yang dilancarkan AS-Israel ke sejumlah titik strategis di Iran menandai eskalasi serius dari konflik berkepanjangan yang selama ini diwarnai ancaman dan sanksi internasional.

Atas serangan itu, Iran pun merespons dengan memberikan serangan balasan terhadap target-target militer AS-Israel. Perang ini pun dapat memunculkan kekhawatiran internasional terhadap meluasnya konflik bersenjata di kawasan.

Eskalasi ini tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak signifikan bagi global. Gangguan terhadap jalur energi, ketidakpastian pasar keuangan, hingga meningkatnya risiko krisis kemanusiaan menjadi ancaman nyata yang diperhatikan dunia internasional.

Beberapa negara dan organisasi global pun mengingatkan potensi dampak yang kemungkinan terjadi. Karena konflik antara AS-Israel dapat mengancam keamanan dan perekonomian dunia.

Dampak Global Akibat Perang AS-Israel dan Iran

Melansir dari situs resmi Universitas Muhammadiyah Surabaya, pakar hukum Internasional dari UMSURA, Satria Unggul Wicaksana, menganggap konflik antara AS-Israel dan Iran memicu dampak global seperti krisis energi dan berpotensi terjadinya perang dunia.

Bukan hanya mengancam energi global, konflik ini juga berpotensi menimbulkan kekhawatiran bagi perdamaian dan keamanan internasional. Lalu, apa saja dampak yang kemungkinan terjadi dari konflik ini?

1. Memicu Terjadinya Krisis Energi Global

Konflik tersebut berpotensi memicu krisis energi global. Hal ini karena sebagian besar jalur distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Eropa dan Asia melewati Selat Hormuz yang ada di bawah kekuasaan Iran. Jika peperangan terus terjadi, Iran kemungkinan akan melakukan pemblokiran sebagai bentuk ancaman terhadap pihak lawan.

Satria mengatakan, gangguan di Selat Hormuz dinilai akan berdampak serius terhadap kelancaran perdagangan global. Kondisi ini tidak hanya menghambat distribusi energi, tetapi juga berisiko memicu ketidakstabilan ekonomi global akibat terganggunya rantai pasok dan meningkatnya harga komoditas energi.

2. Kemungkinan Terjadinya Perang Dunia Ketiga

Peperangan antara AS–Israel dan Iran berpotensi berkembang menjadi konflik global yang lebih luas. Iran diketahui memiliki hubungan penting dengan beberapa negara, seperti Rusia, China, dan Korea Utara.

Hubungan tersebut membuka kemungkinan meluasnya konflik. Apalagi, negara-negara yang berafiliasi dengan Iran memiliki hubungan diplomatik yang kurang baik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Satria mengatakan, apabila perang dunia ketiga benar-benar terjadi, dampak terbesarnya akan dirasakan oleh umat manusia. Hal ini karena peperangan kerap melibatkan penggunaan senjata nuklir yang berpotensi mengancam keberlangsungan hidup manusia.

3. Rusaknya Infrastruktur Fasilitas Umum

Eskalasi konflik ini bukan hanya berdampak pada terganggungnya perekonomian dan minyak global, melainkan juga menyebabkan terjadinya kerusakan pada infrastruktur fasilitas umum.

Serangan ini mengakibatkan kerusakan besar pada sekolah dasar putri di Minab, Iran. Bangunan hancur lebur disertai dengan jatuhnya korban meninggal dari anak-anak sekolah.

Berdasarkan dari berbagai informasi yang dihimpun, kerusakan juga terjadi pada fasilitas kesehatan di Iran, yaitu Gandhi Hospital, Tehran. Akibatnya gedung rumah sakit mengalami kerusakan, pasien harus dievakuasi, dan operasi medis terpaksa terganggu.

Konflik ini juga berakibat pada kerusakan yang terjadi pada bandara yang ada di negara kawasan, seperti terminal bandara di Abu Dhabi dan Dubai. Akibatnya, terpaksa dilakukan pembatalan penerbangan karena keamanan yang belum stabil.

Serangan rudal juga menghancurkan pemukiman yang berujung pada kerusakan berat dan terganggunya layanan fasilitas umum.

Sektor-Sektor yang Terdampak dari Konflik Ini

1. Energi dan Pasokan Minyak Global

Terganggunya rantai pasok minyak dapat memicu terjadinya kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan ini pun berakibat pada kenaikan biaya produksi di sektor-sektor penting, seperti petrokimia, plastik, dan pertanian. Alhasil, barang hasil produksi pun ikut naik signifikan.

Negara-negara Asia, seperti India, Jepang, dan Korea Selatan  yang bergantung pada impor minyak akan merasakan dampak yang sangat besar karena membuat cadangan minyak semakin terbatas. Begitupun negara-negara Eropa yang bergantung pada minyak di Timur Tengah memicu terjadinya lonjakan harga dan membuat ekonomi menjadi lemah.

2. Manufaktur dan Industri

Serangan tersebut berpotensi mengganggu industri otomotif global akibat meningkatnya biaya energi, terhambatnya proses produksi, dan terganggunya rantai pasok. Kendala di Selat Hormuz menyebabkan pasokan energi untuk sektor otomotif menjadi tidak stabil dan berdampak pada distribusi kendaraan.

Di sisi lain, banyak komponen kendaraan berasal dari produk petrokimia berbahan baku polimer, seperti dasbor, panel pintu, bumper, rangkaian kabel, dan seal. Bahan baku polimer tersebut dihasilkan dari turunan nafta dan cairan gas alam yang sangat bergantung pada ketersediaan energi.

Apabila pasokan energi terganggu, biaya produksi akan meningkat dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga jual pada kendaraan secara keseluruhan.

3. Transportasi Penerbangan

Eskalasi konflik antara AS–Israel dan Iran berdampak pada penutupan sejumlah bandara dan pembatalan penerbangan. Langkah ini diambil karena kondisi keamanan wilayah udara yang dinilai belum stabil. Oleh sebab itu, banyak maskapai memilih untuk tidak mengambil risiko, terutama karena keselamatan dan nyawa manusia menjadi prioritas utama.

4. Terganggunya Ekspor dan Impor

Negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi atau barang industri berpotensi menghadapi defisit neraca pembayaran dan perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat terganggunya distribusi logistik.

Sebagai contoh, Indonesia yang merupakan pengimpor bersih minyak akan menanggung kenaikan biaya impor yang pada akhirnya memperbesar defisit transaksi berjalan dan menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

5. Perdagangan dan Logistik

Gangguan pada jalur pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan biaya operasional kapal, premi asuransi maritim, dan memperpanjang waktu pengiriman. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kelancaran rantai pasok global, terutama bagi arus perdagangan barang yang bergantung pada ekspor dan impor dari Asia dan Eropa.