periskop.id - Di tengah peningkatan eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat dan Iran yang memanas, kekhawatiran kini menguat setelah Selat Hormuz sebagai jalur strategis yang menjadi urat nadi transportasi minyak dunia akhirnya ditutup oleh Iran.
Meski ketegangan geopolitik meningkat, Indonesia tercatat tetap memiliki hubungan perdagangan langsung dengan Iran, baik dari sisi ekspor maupun impor, meskipun nilainya relatif kecil dalam struktur perdagangan nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan pada Januari 2026 nilai ekspor Indonesia ke Iran tercatat mencapai US$18,5 juta.
Komoditas utama yang diekspor antara lain buah-buahan senilai US$9,1 juta, lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$2,1 juta, serta kendaraan dan bagiannya sekitar US$2,0 juta.
"Ekspor Indonesia ke Iran pada Januari tahun 2026 sebesar US$18,5 juta, dengan tadi komoditi utamanya buah-buahan yaitu HS08 sebesar US$9,1 juta. Lemak dan minyak hewan nabati atau HS15 sebesar USD2,1 juta," ucap Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (2/3).
Sementara, impor non-migas Indonesia dari Iran pada Januari 2026 didominasi oleh buah-buahan senilai US$2,0 juta atau sekitar 94,07% dari total impor Indonesia dari negara tersebut.
Selain itu, Indonesia juga mengimpor mesin dan peralatan mekanik beserta bagiannya dari Iran senilai US$113,4 ribu atau sekitar 5,30%.
"Kemudian juga mesin dan peralatannya mekanik serta bagiannya atau HS84 US$113,4 ribu impor Indonesia dari Iran atau 5,30%," lanjutnya.
Terkait potensi dampak apabila konflik semakin meningkat, Ateng menegaskan bahwa diperlukan kajian lebih lanjut untuk mengukur pengaruhnya terhadap perdagangan Indonesia.
"Nah untuk melihat potensi dampak jika konflik meningkat, ini diperlukan kajian yang lebih lanjut lagi. Kami hanya bisa memaparkan tadi beberapa komoditi yang di kondisi Januari tahun 2026," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar