periskop.id - Negosiasi antara Iran dan United States mengalami kebuntuan setelah kedua pihak gagal mencapai kesepakatan akhir. Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab mandeknya perundingan tersebut.

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyebut kegagalan itu terjadi karena Iran tidak bersedia menerima syarat-syarat yang diajukan Washington. Menurutnya, pemerintah AS telah menjalani diskusi intensif dengan sikap fleksibel serta niat baik, tapi tetap belum menemukan titik temu.

“Kami meninggalkan tempat ini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana, sebuah pemahaman bahwa ini adalah penawaran terakhir dan terbaik dari kami. Kita lihat saja apakah pihak Iran akan menerimanya,” kata Vance.

Pihak AS juga menilai salah satu hambatan terbesar berasal dari ambisi nuklir Iran. Donald Trump menegaskan isu nuklir merupakan persoalan yang tidak bisa dikompromikan oleh Washington.

Sementara itu, dari pihak Iran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei mengatakan bahwa keberhasilan kesepakatan sangat bergantung pada keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan. Ia juga meminta Washington tidak mengajukan tuntutan berlebihan maupun permintaan yang melanggar hukum.

Menurutnya, sejumlah isu yang menjadi kendala utama dalam perundingan meliputi Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan penghentian total serangan terhadap negaranya.

Lalu, apa saja faktor yang membuat kesepakatan tersebut gagal?

Perundingan Iran dan Amerika di Pakistan

Sebelumnya, kedua negara telah mengirimkan delegasinya masing-masing untuk menghadiri perundingan tersebut. Perundingan tersebut dilaksanakan di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026).

Amerika Serikat diwakili oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, didampingi oleh utusan khusus, Steve Witkoff, dan menantu sekaligus penasihat Presiden AS, Jared Kushner.

Sementara itu, Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf yang didampingi oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Pertahanan, Ali Akbar, Gubernur Bank Sentral, Abdolnaser Hemmati, dan beberapa anggota parlemen Iran.

Trump mengatakan bahwa AS telah menerima proposal yang berisi 10 butir dari Iran yang dapat digunakan sebagai dasar negosiasi. Sementara itu, Iran juga telah menerima proposal 15 butir. Meski keduanya telah hadir di meja perundingan, ternyata hal itu tidak menghasilkan sebuah kesepakatan final.

Penyebab Kegagalan Negosiasi Iran dan Amerika

Beberapa faktor disebut menjadi penyebab gagalnya negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat. Berikut di antaranya:

1. Perbedaan Pandangan Soal Nuklir

Isu utama dalam perundingan kedua negara adalah program nuklir Iran. Amerika menuntut Teheran menghentikan pengembangan senjata nuklir maupun upaya percepatan program tersebut.

Namun, Iran menolak tuntutan itu sehingga perundingan menemui jalan buntu. Perbedaan sikap tersebut memperlihatkan masih kuatnya ketidakpercayaan antara kedua pihak.

2. Selat Hormuz

Selat Hormuz juga menjadi salah satu topik sensitif dalam negosiasi. Jalur ini merupakan rute penting bagi kapal tanker dunia. Donald Trump menuding Iran memperlakukan kapal-kapal yang melintas secara buruk.

Ia menyebut jumlah kapal yang dapat melintas sangat terbatas, sementara ratusan kapal lain dan sekitar 20 ribu awak kapal masih tertahan di kawasan teluk.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz berada dalam wilayah kedaulatannya dan berhak diatur melalui regulasi baru, termasuk penentuan kapal mana yang boleh melintas. Iran juga disebut mengubah rute pelayaran untuk membantu kapal tertentu menghindari ranjau di jalur utama.

Selain itu, muncul laporan bahwa kapal yang melintas dikenakan biaya sekitar 2 juta dolar AS atau Rp34,2 miliar. Trump pun memperingatkan Iran agar tidak memungut biaya dari kapal tanker yang melintas.

3. Serangan Israel ke Lebanon

Di tengah upaya gencatan senjata, Israel masih melancarkan serangan ke Lebanon, terutama yang berkaitan dengan kelompok Hizbullah.

Iran menilai kondisi itu membuat perundingan kehilangan makna. Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan tidak ada gencatan senjata yang berlaku untuk Hizbullah.

4. Status Gencatan Senjata Belum Jelas

Sebelumnya, AS dan Iran disebut sepakat melakukan gencatan senjata selama dua minggu. Namun, karena negosiasi berakhir buntu, belum ada kepastian apakah gencatan senjata akan diperpanjang atau tidak. Situasi ini memicu potensi eskalasi konflik kembali.

5. Tuntutan Pencabutan Sanksi

Iran telah lama dikenakan sanksi internasional. Oleh karena itu, Iran menuntut pencabutan sanksi sebagai bagian dari kesepakatan damai. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebutkan bahwa ada sekitar 120 miliar dolar AS aset Iran yang perlu dicairkan.

Namun, belum ada kepastian mengenai pencairan aset yang dibekukan oleh Amerika dan negara lain. Ketidakjelasan tersebut menjadi salah satu hambatan dalam proses negosiasi damai kedua negara.