banner-sheroes-yoga
Internasional

Perang Iran Jadi Isu Panas Politik AS Menjelang Pemilu

Konflik AS-Iran memicu perdebatan politik domestik. Dukungan publik rendah, korban jiwa meningkat, dan tekanan Kongres menjadikan perang Iran faktor penting menjelang pemilu sela N...

Presiden amerika serikat, donald trump, kuba, iran
Presiden AS Donald Trump saat mengumumkan dimulainya serangan militer ke Iran. dok. Reuters
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran semakin memengaruhi dinamika politik domestik menjelang pemilu sela November mendatang. Operasi gabungan AS dan Israel yang memicu eskalasi regional kini bukan hanya menjadi isu kebijakan luar negeri, tetapi juga berkembang menjadi perdebatan tajam di dalam negeri.

Survei Reuters/Ipsos yang dilakukan segera setelah operasi militer diluncurkan menunjukkan dukungan publik terhadap serangan tersebut relatif rendah. Hanya sekitar seperempat responden yang menyatakan setuju, sementara 43% menolak dan 29% lainnya belum menentukan sikap. Temuan ini muncul sebelum pemerintah mengumumkan adanya korban jiwa dari pihak militer AS.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan operasi akan terus dilanjutkan meski risiko meningkat. Ia menegaskan pemerintahannya tidak akan mundur dari target yang telah ditetapkan.

“Misi ini adalah misi yang benar. Kami akan terus bergerak hingga seluruh tujuan tercapai,” ujar Trump, dikutip dari Al Jazeera, Senin (2/3).

Merujuk pada tiga prajurit AS yang diumumkan tewas, Trump juga mengakui kemungkinan bertambahnya korban dalam konflik tersebut.

“Kemungkinan akan ada lagi sebelum ini berakhir,” katanya.

Eskalasi meningkat setelah serangan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Gedung Putih kembali menegaskan posisinya bahwa Iran merupakan ancaman serius bagi keamanan global.

Trump menyatakan para pemimpin Iran “telah berperang melawan peradaban itu sendiri”.

Namun, hasil survei menunjukkan pandangan publik tidak sepenuhnya sejalan dengan narasi tersebut. Di kalangan Partai Republik, dukungan memang lebih tinggi dibanding Demokrat, tetapi tidak sepenuhnya solid. Sekitar 42% responden Republik menyatakan akan cenderung menarik dukungan jika konflik menyebabkan tentara AS di Timur Tengah tewas atau terluka.

Di Kongres, tekanan politik mulai meningkat. Sejumlah legislator mendorong agar kewenangan perang dibatasi melalui persetujuan legislatif sebelum langkah militer lanjutan diambil.

Senator Chris Van Hollen menyampaikan keprihatinannya atas korban yang jatuh.

“Saya memikirkan para prajurit Amerika yang gugur hari ini. Mereka seharusnya masih bersama kita,” tulisnya.

Ia juga menegaskan kritik terhadap keputusan presiden.

“Trump mengatakan ia akan menjauhkan kita dari perang. Ini adalah perang pilihannya.”

Selain faktor keamanan, aspek ekonomi turut menjadi perhatian. Sekitar 45% responden survei menyatakan mereka akan kurang mendukung operasi militer apabila konflik menyebabkan kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri. Dengan opini publik yang terbelah, meningkatnya korban jiwa, serta sorotan dari Kongres, perang Iran kini menjadi faktor penting yang membentuk peta politik AS menjelang pemilu sela.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai AS-Israel Serang Iran, politik, dan Donald Trump dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.