Periskop.id - Sejumlah negara Asia mulai merasakan dampak ekonomi dari meningkatnya serangan udara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, tatkala kapal-kapal tanker minyak masih tertahan di sekitar Selat Hormuz, salah satu koridor energi paling vital di dunia.

Beberapa operator pelayaran menghentikan transit melalui selat tersebut, di tengah melonjaknya biaya asuransi dan meningkatnya kekhawatiran keamanan. China pada Senin (3/3) menyebut jalur perairan itu sebagai “rute perdagangan internasional yang penting” dan mendesak penghentian segera operasi militer.

Mengutip Anadolu Agency, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan, stabilitas di selat dan perairan sekitarnya sangat penting bagi perdagangan global. Karena itu, ia menyerukan langkah-langkah untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Media Iran, Sabtu (28/2) melaporkan, Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan AS-Israel, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal. Lebih dari 40 kapal yang terkait dengan Jepang, termasuk kapal tanker minyak, saat ini tertahan di Teluk Persia, tulis Kyodo News

Setidaknya tiga kapal telah menghentikan upaya untuk melintasi selat tersebut. Jepang sendiri mengimpor sekitar 95% minyak mentahnya dari Timur Tengah, yang sebagian besar melewati jalur perairan sempit itu.

Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi Senin, meminta, Duta Besar Iran untuk Tokyo Peiman Seadat membantu memastikan keselamatan pelayaran di Selat Hormuz.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Jepang, Motegi menyatakan Tokyo akan “terus melakukan seluruh upaya diplomatik yang diperlukan, untuk mencapai penyelesaian situasi ini secepat mungkin.”

Malaysia sendii menyarankan kapal-kapalnya untuk menghindari selat tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut, lapor Bernama. Departemen Kelautan Malaysia meminta operator kapal untuk memantau secara ketat peringatan keamanan internasional dan menjaga kesiapsiagaan operasional pada tingkat tinggi.

Senada, Pakistan juga tengah menyiapkan rencana darurat. Sejumlah pejabat mengatakan kepada harian lokal The News International bahwa Islamabad kemungkinan akan meminta dimasukkan dalam daftar pasokan minyak mentah pilihan Arab Saudi, untuk pengiriman melalui Laut Merah, jika gangguan berlanjut lebih dari 10 hingga 12 hari.

Dua kapal tanker minyak mentah yang dioperasikan oleh Pakistan National Shipping Corporation masih tertahan di dekat selat. Satu kapal lainnya yang mulai memuat ketika konflik meningkat diperkirakan belum akan berangkat dalam waktu dekat.

Asal tahu saja, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20% konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor tersebut.

Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret turun 86% dibandingkan rata-rata tahun 2026. United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sejumlah insiden maritim yang digambarkan sebagai serangan pada Minggu.

Hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jaringan pipa yang dapat menghindari Selat Hormuz. Namun kapasitasnya hanya mencakup sebagian kecil dari volume minyak mentah yang biasanya dikirim melalui jalur tersebut.

Kemenkeu Pantau Potensi Risiko

Dari dalam negeri, Kementerian Keuangan menyatakan terus memantau secara ketat potensi risiko dari konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS), khususnya usai penutupan Selat Hormuz.

“Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi mempengaruhi perekonomian nasional,” kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Febrio menyebut, risiko gangguan terhadap rantai pasok global, terutama pasokan energi dan minyak bumi, serta peningkatan volatilitas pasar keuangan global menjadi perhatian utama.

Ketegangan perdagangan global juga berpotensi menekan kinerja ekspor nasional melalui pelemahan permintaan eksternal dan peningkatan biaya logistik. Meski begitu, menurut Febrio, fundamental eksternal Indonesia tetap baik, tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut.

Neraca perdagangan surplus US$950 juta pada Januari 2026. Surplus ditopang oleh kinerja ekspor yang mencapai US$22,16 miliar atau tumbuh 3,39% (year-on-year/yoy), didorong oleh ekspor nonmigas.

Kinerja ekspor nonmigas didorong sektor industri pengolahan yang tumbuh 8,19%(yoy), utamanya minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, serta komoditas bernilai tambah tinggi seperti otomotif dan elektronik.

Sementara itu, impor tercatat sebesar US$21,20 miliar atau tumbuh 18,21% (yoy), didominasi kenaikan bahan baku dan barang modal, sejalan dengan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi domestik.

Secara paralel, Kemenkeu juga memastikan APBN dikelola secara hati-hati, termasuk dengan menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). “Pemerintah juga terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Febrio.

Upaya mitigasi risiko dilakukan melalui percepatan keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam dan peningkatan daya saing produk ekspor bernilai tambah. Di samping itu, pemerintah juga berupaya mendiversifikasi mitra dagang utama, melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional. 

Hal ini guna memperluas akses pasar dan memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.