Periskop.id - Ketegangan di Timur Tengah mencapai babak baru yang semakin kompleks. Ribuan pejuang Kurdi yang memiliki pengalaman tempur panjang di Irak utara dilaporkan tengah bersiap untuk kemungkinan operasi militer lintas batas ke wilayah Iran. Langkah berisiko ini dikabarkan mendapat lampu hijau dan dukungan dari Amerika Serikat.
Melansir laporan AP News pada Jumat (6/3), tiga pejabat Kurdi mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah membahas situasi tersebut dengan pimpinan dua partai Kurdi utama di Irak pada hari Minggu sebelumnya. Pertemuan tertutup ini menjadi sinyal kuat adanya pergeseran strategi Washington dalam menghadapi Teheran.
Mengenal Etnis Kurdi
Kurdi merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di dunia yang hingga kini tidak memiliki negara sendiri. Dengan populasi sekitar 30 juta jiwa, mereka hidup sebagai minoritas yang tersebar di Turki, Irak, Iran, dan Suriah.
Meskipun memiliki bahasa dan budaya sendiri, aspirasi mereka untuk mendirikan negara merdeka yang disebut Kurdistan selalu berbenturan dengan kepentingan geopolitik negara tetangga.
Di Iran sendiri, terdapat sekitar 9 juta warga Kurdi yang menetap di sepanjang perbatasan barat. Selama bertahun tahun, kelompok ini melaporkan adanya diskriminasi sistemis dari pemerintah pusat.
Amnesty International bahkan mencatat sejarah panjang penindasan terhadap etnis Kurdi di Iran, termasuk tindakan keras terhadap para kurir lintas batas (kulbar) yang tidak bersenjata.
Koalisi Oposisi Kurdi Iran
Perkembangan terbaru menunjukkan adanya persatuan yang belum pernah terjadi sebelumnya di kalangan oposisi Kurdi.
Lima kelompok Kurdi Iran telah membentuk koalisi dengan tujuan utama menggulingkan Republik Islam Iran. Pada Kamis kemarin, kelompok keenam resmi bergabung dalam aliansi ini.
Abdullah Mohtadi, Sekretaris Jenderal Partai Komala Kurdistan Iran, menyatakan signifikansi dari pergerakan ini:
“Untuk pertama kalinya, semua partai Kurdi utama bersatu dalam koalisi baru, sebuah langkah bersejarah untuk membentuk masa depan baru bagi Kurdi dan Iran yang demokratis,” jelas Mohtadi.
Keterlibatan kelompok bersenjata ini di tengah serangan udara Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran diprediksi akan memberikan tantangan pertahanan yang sangat berat bagi Teheran.
Sejarah Kelam Hubungan Kurdi dan Amerika Serikat
Meskipun saat ini mendapat dukungan dari pemerintahan Trump, sejarah mencatat bahwa kelompok Kurdi sering kali menjadi pihak yang dikorbankan dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
- 1975: Presiden Gerald Ford gagal melindungi Kurdi dari kekalahan oleh pasukan Irak.
- 1988: Presiden Ronald Reagan tidak menghentikan penggunaan senjata kimia oleh Irak terhadap warga Kurdi.
- 1990: Presiden George Bush mendorong pemberontakan Kurdi melawan Saddam Hussein, namun kemudian membiarkan mereka dihancurkan secara brutal.
- Januari 2026: Trump mengizinkan pasukan Suriah merebut wilayah Kurdi yang sebelumnya diperoleh dengan susah payah selama perang melawan ISIS.
Posisi Turki dan Kekhawatiran Irak
Rencana operasi militer ini mendapat tentangan keras dari Turki. Sebagai anggota penting NATO, Turki dengan tegas menolak pengiriman senjata Barat kepada gerilyawan Kurdi, meskipun targetnya adalah Iran.
Turki menganggap kelompok seperti PJAK sebagai organisasi teroris yang mengancam stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Sementara itu, Pemerintah Daerah Kurdistan di Irak berada dalam posisi dilematik. Mereka khawatir wilayah mereka akan menjadi medan perang dan sasaran empuk balasan Iran.
Peshawa Hawramani, juru bicara Pemerintah Daerah Kurdistan, memberikan klarifikasi tegas terkait tuduhan keterlibatan mereka.
“Tuduhan yang menyatakan kami bagian dari rencana untuk mempersenjatai dan mengirim partai oposisi Kurdi ke wilayah Iran sepenuhnya tidak berdasar,” terang Hawramani.
Situasi Terkini di Lapangan
Kekerasan mulai pecah di wilayah perbatasan. Pasukan Iran dan sekutunya telah meluncurkan rudal serta drone yang menargetkan pangkalan AS dan Konsulat AS di Irbil sebagai balasan atas tekanan militer.
Di sisi lain, Khalil Nadiri dari Partai Kebebasan Kurdistan mengonfirmasi bahwa pasukannya telah bergeser ke dekat perbatasan Iran di provinsi Sulaymaniyah dalam posisi siaga penuh.
Eskalasi ini memunculkan kekhawatiran global akan terjadinya ketidakstabilan regional yang lebih luas, di mana Irak berisiko terseret lebih dalam ke dalam konflik terbuka antara poros Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Tinggalkan Komentar
Komentar