periskop.id - Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi semakin meluas setelah China disebut mulai memberikan dukungan kepada Teheran. Dukungan tersebut muncul setelah Rusia lebih dulu terlibat dengan memberikan bantuan intelijen kepada Iran.

Berdasarkan laporan intelijen Amerika Serikat, Rusia memberikan informasi kepada Iran mengenai lokasi dan pergerakan pasukan, kapal, serta pesawat militer AS. Informasi tersebut disampaikan oleh beberapa sumber yang mengetahui laporan intelijen AS terkait keterlibatan Moskow dalam konflik tersebut.

Sebagian besar intelijen yang dibagikan Rusia kepada Iran berasal dari citra satelit militer Rusia yang memiliki kemampuan pengamatan canggih dari luar angkasa. Namun hingga kini belum diketahui apa yang diperoleh Rusia sebagai imbalan atas bantuan tersebut.

Pemerintah AS juga belum memastikan apakah serangan Iran tertentu secara langsung menggunakan intelijen dari Rusia. Meski demikian, dalam beberapa hari terakhir sejumlah drone Iran dilaporkan menyerang lokasi yang menjadi tempat keberadaan pasukan Amerika.

Salah satu serangan terjadi pada Minggu ketika drone Iran menghantam fasilitas sementara yang digunakan oleh pasukan AS di Kuwait. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan enam personel militer Amerika.

Salah satu sumber yang mengetahui laporan intelijen tersebut mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan Rusia masih sangat menyukai Iran. Di sisi lain, Amerika Serikat juga memiliki informasi intelijen yang menunjukkan bahwa China kemungkinan sedang mempersiapkan bantuan kepada Iran, termasuk dukungan finansial, suku cadang, serta komponen rudal. Informasi ini disampaikan oleh tiga sumber yang mengetahui perkembangan tersebut.

Meski demikian, Beijing disebut masih berhati-hati dalam memberikan dukungan. China selama ini sangat bergantung pada pasokan minyak dari Iran dan dilaporkan menekan Teheran agar menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Melansir CNN, Sabtu (7/3), salah satu sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan, “China lebih berhati-hati dalam memberikan dukungan. Mereka ingin perang ini berakhir karena konflik tersebut membahayakan pasokan energi mereka,”.

Menanggapi laporan mengenai berbagi intelijen tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi.

“Kami memantau semuanya… Masyarakat Amerika dapat tenang karena panglima tertinggi mereka sangat mengetahui siapa yang berkomunikasi dengan siapa,” kata dia dalam wawancara dengan program “60 Minutes” di CBS News, ia menyatakan, 

Menurut Hegseth, pemerintah AS juga akan menindak tegas setiap bentuk dukungan yang dianggap tidak semestinya dalam konflik tersebut.

“Dan segala sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, baik dilakukan secara terbuka maupun melalui jalur tidak resmi, akan kami hadapi dan kami tangani dengan tegas,” tegas dia.

Namun sebelumnya Hegseth sempat mengatakan kepada wartawan bahwa Rusia dan China sebenarnya bukan faktor utama dalam perang melawan Iran.

Hubungan militer Rusia dan Iran sendiri telah terjalin setidaknya selama tiga tahun terakhir, terutama dalam pengembangan teknologi rudal dan drone. Iran diketahui memasok drone Shahed dan rudal balistik jarak pendek kepada Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina, sekaligus membantu pembangunan pabrik drone besar di Rusia. Sebagai imbalannya, Iran juga disebut meminta bantuan Rusia untuk memperkuat program nuklirnya.

Dalam konflik yang sedang berlangsung saat ini, operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran melibatkan lebih dari 50.000 tentara, lebih dari 200 pesawat tempur, serta dua kapal induk. Hal itu diungkapkan oleh Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper.

Hingga kini pemerintah AS belum menyampaikan berapa lama konflik tersebut akan berlangsung. Menurut pejabat Pentagon, tujuan utama operasi militer AS adalah menghilangkan kemampuan rudal balistik Iran, yang menurut Hegseth digunakan Teheran sebagai tameng untuk mengembangkan program nuklirnya.