Teheran - Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran hingga batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil saat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat tajam dan berisiko mengganggu salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Pengumuman tersebut disampaikan Otoritas Selat Teluk Persia Iran atau Persian Gulf Strait Authority (PGSA) melalui platform X, Kamis (11/6). Dalam pernyataannya, PGSA menyebut penutupan dilakukan sebagai respons atas eskalasi yang dipicu tindakan militer Amerika Serikat dan pengumuman terbaru dari angkatan bersenjata Iran.
"Karena ketegangan yang dipicu pasukan agresif AS dan pengumuman terbaru Angkatan Bersenjata Republik Islam, Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya," kata PGSA.
Otoritas itu juga meminta seluruh pihak yang telah memperoleh izin transit untuk tidak memaksakan pelayaran. Kapal-kapal yang hendak melintas diminta menunggu instruksi lebih lanjut sampai ada pemberitahuan resmi mengenai operasional jalur tersebut.
Keputusan Iran menutup Selat Hormuz menjadi perkembangan besar dalam konflik Iran-AS karena jalur ini merupakan salah satu chokepoint energi paling strategis di dunia. Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk, termasuk Iran, Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Bagi pasar global, gangguan di Selat Hormuz selalu menjadi perhatian serius. Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA mencatat arus melalui Selat Hormuz pada 2024 dan kuartal I 2025 mencakup lebih dari seperempat perdagangan minyak laut global dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk petroleum dunia. Selain itu, sekitar seperlima perdagangan LNG global pada 2024 juga melewati jalur ini, terutama dari Qatar.
Fluktuasi Harga Minyak
Karena itu, penutupan Selat Hormuz dapat berdampak langsung pada pasokan energi global. Jika penutupan berlangsung lama atau disertai ancaman terhadap kapal tanker, biaya asuransi pelayaran bisa meningkat, waktu pengiriman menjadi lebih panjang, dan harga minyak serta gas berpotensi bergerak lebih volatil.
Pengumuman Iran muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran mengulur-ulur proses perundingan. Trump juga menyatakan Washington berniat melancarkan serangan besar terhadap Iran jika tidak ada kemajuan dalam penyelesaian konflik.
Pada hari yang sama, Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM menyatakan telah melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan itu kemudian dibalas Iran dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan.
Ketegangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari konflik yang pecah sejak 28 Februari. Saat itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan dan menyebabkan korban dari kalangan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Setelah beberapa pekan eskalasi, kedua pihak sempat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April. Namun, pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad tidak menghasilkan terobosan berarti untuk mengakhiri konflik.
Penutupan Selat Hormuz membuat situasi semakin rumit. Di satu sisi, Iran menggunakan jalur strategis tersebut sebagai instrumen tekanan politik dan militer. Di sisi lain, negara-negara pengguna energi, pelaku industri, dan perusahaan pelayaran harus menghadapi risiko gangguan pasokan yang sulit diprediksi.
Reuters melaporkan Iran sebelumnya juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah serangan AS. Komando militer Iran bahkan menyatakan penutupan berlaku untuk seluruh kapal, termasuk tanker minyak dan kapal niaga, serta memperingatkan kapal yang mencoba melintas dapat ditembak. Laporan lain menyebut sebagian kapal komersial masih berusaha melintasi kawasan tersebut meski dengan risiko tinggi.
Dalam perkembangan terbaru, Reuters juga melaporkan tiga kapal tanker LNG tambahan keluar dari Selat Hormuz dengan transponder dimatikan. Data pelacakan kapal menunjukkan kapal-kapal itu menuju sejumlah negara di Asia. Pergerakan semacam ini menggambarkan betapa sensitifnya situasi pelayaran di kawasan tersebut, karena kapal dapat mematikan sistem pelacak untuk mengurangi risiko deteksi.
Meski Iran mengumumkan penutupan, pasar minyak belum sepenuhnya bergerak satu arah. Reuters melaporkan harga minyak sempat naik akibat kekhawatiran gangguan pasokan, tetapi kemudian melemah sekitar 1% pada Kamis karena pelaku pasar menilai kembali dampak aktual terhadap arus energi. Brent dilaporkan turun ke kisaran US$92 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$89 per barel.
Jalur Energi
Namun, pergerakan harga yang sempat mereda tidak berarti risiko sudah hilang. Selama status Selat Hormuz belum jelas, pasar energi tetap menghadapi ketidakpastian tinggi. Setiap insiden terhadap kapal tanker, pernyataan militer baru, atau kegagalan diplomasi dapat kembali memicu lonjakan harga minyak.
Bagi Asia, dampak penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian besar karena banyak negara kawasan ini bergantung pada pasokan minyak dan LNG dari Timur Tengah. China, India, Jepang, Korea Selatan, hingga sejumlah negara Asia Tenggara memiliki kepentingan besar terhadap kelancaran jalur energi tersebut.
Indonesia juga perlu memantau perkembangan ini karena gejolak harga minyak global dapat berdampak pada harga energi, biaya impor, subsidi, dan tekanan terhadap neraca perdagangan. Meski dampaknya tidak selalu langsung terasa, gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memperbesar beban fiskal dan menekan harga bahan bakar di banyak negara importir energi.
Di tengah situasi ini, kapal-kapal yang telah memperoleh izin transit diminta menunggu pemberitahuan lebih lanjut dari otoritas Iran. Belum ada kepastian kapan jalur itu akan kembali dibuka sepenuhnya, atau apakah penutupan akan disertai mekanisme izin khusus bagi kapal tertentu.
Penutupan tanpa batas waktu tersebut menandai babak baru konflik Iran-AS. Jika eskalasi terus berlanjut, Selat Hormuz berpotensi berubah dari jalur perdagangan energi menjadi titik tekan utama dalam konflik geopolitik Timur Tengah. Sebaliknya, jika diplomasi kembali bergerak, pembukaan jalur pelayaran dapat menjadi salah satu indikator awal meredanya ketegangan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar