Periskop.id - Iran menyatakan siap menghadapi kemungkinan Amerika Serikat mengerahkan pasukan untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Ali Mohammad Naini mengatakan, Sabtu (7/3), pihaknya menunggu kehadiran konvoi militer AS jika rencana tersebut direalisasikan.

"Iran sangat menyambut kemungkinan pasukan AS mengawal kapal tanker melintasi Selat Hormuz. Kami tunggu kehadiran mereka," kata Naini, seperti dikutip media penyiaran Iran.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, serta kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi rute penting pengiriman minyak global.

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengisyaratkan, kemungkinan pengerahan angkatan laut untuk mengawal kapal-kapal komersial yang berlayar melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan mendatang, guna meredakan kekhawatiran pasokan minyak. Pengiriman melalui selat itu dilaporkan terganggu setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dan gas dari Teluk Persia, menyumbang sekitar 20% perdagangan global minyak, produk petroleum, dan gas alam cair.

Klaim Trump
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengklaim, Iran telah meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan menyerang mereka lagi, setelah menghadapi serangan berkelanjutan dari AS dan Israel.

"Iran, yang sedang dihantam habis-habisan, telah meminta maaf dan menyerah kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan lagi menembaki mereka," ujar Trump melalui media sosial miliknya, Truth Social, Sabtu (7/3).

Ia menambahkan, "ini pertama kalinya dalam ribuan tahun Iran kalah dari negara-negara Timur Tengah di sekitarnya" sehingga mereka berterima kasih kepada dirinya.

"Mereka mengatakan 'terima kasih Presiden Trump' dan saya menjawab 'sama-sama'," serunya. 

Menurut Trump, Iran kini tidak lagi bisa menjadi "perundung Timur Tengah." Sebaliknya, negara itu telah kalah dan akan tetap seperti itu selama beberapa dekade "hingga mereka menyerah dan runtuh."

Sementara itu, RIA Novosti melaporkan, Trump itu akan melakukan serangan besar-besaran pada Sabtu. Ia juga mengancam akan melakukan "penghancuran total" terhadap sejumlah wilayah dan kelompok orang yang sebelumnya tidak menjadi target serangan.

"Hari ini Iran akan dihantam sangat keras. Wilayah dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan sebagai target kini sedang dipertimbangkan untuk dihancurkan sepenuhnya,” kata Trump di Truth Social.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Teheran atau negara-negara Teluk terkait pernyataan Trump tentang permintaan maaf Iran tersebut.

Namun, Perwakilan Tetap Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani sebelumnya menegaskan, Iran akan terus membela diri hingga agresi dan "tindakan barbar Amerika Serikat dan Israel" dihentikan.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari yang dilaporkan menewaskan lebih dari 900 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sedikitnya 165 siswi sekolah.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan lokasi-lokasi yang terkait dengan AS di negara-negara Teluk.