Periskop.id - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menilai Israel menjadi salah satu pemicu utama memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, di tengah krisis yang terus berkembang pascaserangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Pernyataan itu disampaikan Erdogan saat berbicara kepada wartawan sepulang dari kunjungan kenegaraan ke Kazakhstan, Sabtu (16/5) waktu setempat.
"Provokasi Israel yang hingga kini masih berlangsung menjadi salah satu alasan utama krisis ini muncul," kata Presiden Erdogan dikutip Minggu (17/5) WIB.
Menurut Erdogan, tindakan Israel selama ini menunjukkan adanya upaya mengguncang stabilitas kawasan demi kepentingannya sendiri. Karena itu, Ankara memandang langkah paling penting saat ini adalah meredam eskalasi dan menghentikan provokasi agar perdamaian jangka panjang di Timur Tengah dapat dibangun.
Ia juga menegaskan, persoalan di kawasan seharusnya diselesaikan oleh negara-negara regional tanpa intervensi pihak luar. Turki, kata Erdogan, akan terus berupaya mencegah konflik semakin meluas sekaligus menjaga stabilitas kawasan yang saat ini berada dalam tekanan besar akibat konflik Iran-Israel.
“Menetralisir provokasi Israel” disebut Erdogan sebagai langkah penting sebelum membangun stabilitas permanen di Timur Tengah.
Hormuz Masih Panas
Di saat yang sama, ketegangan di kawasan juga berdampak langsung terhadap jalur perdagangan energi global. Iran dilaporkan mulai melakukan pengawasan ketat terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak dan gas paling strategis di dunia.
Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan negara-negara Eropa kini mulai melakukan negosiasi dengan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terkait keamanan pelayaran kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu, termasuk wilayah Teheran. Serangan tersebut memicu respons balasan Iran terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Konflik tersebut berdampak besar terhadap distribusi energi global karena Selat Hormuz menjadi jalur utama ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar internasional.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengonfirmasi adanya ranjau dan hambatan militer di kawasan Selat Hormuz, sehingga kapal asing diwajibkan berkoordinasi dengan otoritas Iran sebelum melintas.
"Kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz jelas harus berkoordinasi dengan militer kami, karena adanya ranjau dan rintangan yang ada. Kami akan membimbing mereka, seperti yang telah kami lakukan dengan sejumlah kapal India. Navigasi yang aman adalah kebijakan kami," kata Araghchi dalam konferensi pers.
Menurut laporan media Iran, sekitar 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz sejak Rabu malam (13/5) di bawah pengawasan Angkatan Laut IRGC. Data platform pelacakan kapal Marine Traffic juga menunjukkan, sedikitnya empat kapal terkait China melewati jalur pelayaran yang disebut Iran sebagai koridor aman dalam 24 jam terakhir.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi dunia. Data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan, sekitar 20% distribusi minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya.
Akibat ketegangan yang terus meningkat, harga minyak dunia kembali mengalami tekanan kenaikan karena pasar khawatir terhadap potensi gangguan distribusi energi internasional. Sejumlah analis geopolitik menilai situasi di Selat Hormuz kini menjadi salah satu risiko terbesar bagi stabilitas ekonomi global, terutama jika konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat terus bereskalasi dalam beberapa pekan ke depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar