Periskop.id - Berdasarkan data terbaru dari Fortune Southeast Asia 500 Ranking edisi 2026, peta persaingan bisnis di kawasan Asia Tenggara menunjukkan dominasi kuat dari sektor komoditas, energi, dan layanan keuangan. 

Daftar 10 besar korporasi dengan pendapatan tertinggi di wilayah ini menampilkan performa finansial yang beragam, mencerminkan dinamika ekonomi global yang dinamis.

Advertisement

Posisi puncak berhasil diamankan oleh Trafigura Group, raksasa perdagangan komoditas global yang bergerak di sektor logam, mineral, dan energi, serta berbasis di Singapura. 

Perusahaan ini mencatatkan pendapatan fantastis sebesar US$240,3 miliar, jauh melampaui para pesaingnya, meskipun mengalami sedikit penurunan pendapatan sebesar 1,2% dan penurunan laba 3,8% menjadi US$2,7 miliar.

Menyusul di peringkat kedua adalah PTT, badan usaha milik negara Thailand yang bergerak di sektor minyak dan gas terintegrasi. Perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar US$81,0 miliar dengan pertumbuhan laba yang positif sebesar 7,5% mencapai US$2,7 miliar. 

Sementara itu, posisi ketiga ditempati oleh Pertamina, perusahaan energi andalan Indonesia. Perusahaan ini menorehkan kinerja solid dengan pendapatan US$70,9 miliar dan lonjakan keuntungan sebesar 7,2% hingga menyentuh US$3,3 miliar.

Sektor agribisnis dan pengolahan pangan juga unjuk gigi melalui Wilmar International di peringkat keempat dan Olam Group di peringkat kelima, di mana keduanya merupakan korporasi multinasional yang berbasis di Singapura. 

Wilmar International mencatat pendapatan US$70,4 miliar dengan pertumbuhan laba yang kuat sebesar 20,6%. Di sisi lain, Olam Group mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat impresif sebesar 22,5% menjadi US$51,5 miliar serta meroketnya pertumbuhan laba hingga 425,2% menjadi US$339,8 juta.

BUMN Indonesia kembali masuk dalam jajaran elite melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN) di peringkat keenam. Perusahaan yang bergerak di sektor utilitas listrik ini mengantongi pendapatan US$35,4 miliar, walau harus menghadapi koreksi tajam pada laba bersihnya sebesar -61,9% menjadi US$426,3 juta. 

Di posisi ketujuh, raksasa ritel asal Thailand, CP ALL yang mengoperasikan jaringan ritel berskala kecil (convenience store) berhasil membukukan pendapatan US$31,1 miliar dengan pertumbuhan laba yang sehat sebesar 19,5%.

Sektor perbankan diwakili oleh DBS Group Holdings asal Singapura di peringkat kedelapan. Sebagai salah satu lembaga keuangan terbesar di Asia Tenggara, DBS mengumpulkan pendapatan US$28,2 miliar dengan total aset yang sangat masif, mencapai US$698,0 miliar. 

Memasuk peringkat sembilan terdapat Flex, perusahaan manufaktur elektronik global yang secara hukum berbasis di Singapura dengan pendapatan US$27,9 miliar.

Melengkapi daftar sepuluh besar, Top Frontier Investment Holdings menempati peringkat kesepuluh dengan pendapatan US$25,9 miliar. Perusahaan induk asal Filipina ini bergerak di berbagai sektor strategis, termasuk pertambangan dan infrastruktur.

Tabel 10 Besar Fortune Southeast Asia 500 di 2026

Untuk rincian indikator keuangan selengkapnya, berikut adalah datanya:

PeringkatNama PerusahaanPendapatan (US$ Miliar)Perubahan Pendapatan (%)Laba (US$ Miliar)Perubahan Laba (%)Total Aset (US$ Miliar)Jumlah Karyawan
1Trafigura Group240,3-1,2%2,7-3,8%79,514.476
2PTT81,0-7,5%2,77,5%103,933.122
3Pertamina70,9-5,9%3,37,2%91,635.295
4Wilmar International70,44,5%1,420,6%65,6119.320
5Olam Group51,522,5%0,3425,2%30,359.120
6Perusahaan Listrik Negara (PLN)35,42,8%0,4-61,9%110,249.979
7CP ALL31,111,1%0,819,5%31,2195.475
8DBS Group Holdings28,2-2,7%8,3-1%698,039.537
9Flex27,98,1%0,95%22,1130.229
10Top Frontier Investment25,9-6%0,3-48,855.440