Periskop.id - Mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei akan dimakamkan di Mashhad, kota kelahirannya di Iran. Ia gugur pada usia 86 tahun akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Maret 2026.

Mashhad dipilih sebagai lokasi pemakaman bukan tanpa alasan personal. Selain menjadi tempat Khamenei dilahirkan, kota suci itu juga menyimpan makam ayahnya, yang berada di dalam kompleks Imam Reza.

Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad dari keluarga berlatar ulama. Ia menempuh pendidikan agama di kota kelahirannya sebelum melanjutkan studi ke kota suci Qom, tempat ia kelak menjadi murid Ayatullah Ruhollah Khomeini, tokoh sentral Revolusi Islam Iran 1979.

Semasa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi, Khamenei aktif bergabung dalam gerakan oposisi. Ia beberapa kali ditangkap oleh polisi rahasia SAVAK atas aktivitas politiknya.

Setelah Revolusi Islam 1979 berhasil meruntuhkan monarki, karier politiknya menanjak pesat. Ia tercatat pernah menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi, anggota parlemen, imam salat Jumat Teheran, hingga Presiden Iran selama dua periode pada 1981 hingga 1989.

Saat Ayatullah Khomeini wafat pada 1989, Majelis Pakar menunjuk Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, atau yang dikenal dengan sebutan Supreme Leader. Posisi ini merupakan jabatan paling berkuasa dalam sistem politik Iran.

Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia memegang kendali atas militer, Garda Revolusi, kebijakan luar negeri, lembaga peradilan, media pemerintah, serta pengangkatan sejumlah pejabat negara kunci. Kewenangan itu menempatkannya di atas presiden dalam hierarki kekuasaan Iran.

Selama lebih dari tiga dekade memimpin, Khamenei dikenal konsisten mempertahankan sistem Republik Islam. Di bawah kepemimpinannya, Iran memperluas pengaruh regional melalui jaringan kelompok sekutu di Timur Tengah, sekaligus mengembangkan program rudal dan nuklir yang memicu berbagai sanksi dari negara-negara Barat.

Dalam kebijakan luar negeri, Khamenei secara terbuka menentang Amerika Serikat dan Israel. Ia pula yang memperkuat apa yang disebut Iran sebagai "Poros Perlawanan", yakni jaringan kelompok dan negara yang bersekutu dengan Teheran di kawasan Timur Tengah.

Khamenei memimpin Iran selama 36 tahun, menjadikannya salah satu kepala negara dengan masa jabatan terpanjang di Timur Tengah. Kepergiannya menutup babak panjang dalam sejarah Republik Islam Iran yang ia jaga sejak 1989.