Periskop.id - Aktivis pro-Tibet Lobga Rangzen tewas setelah membakar diri di depan markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Kamis (2/7). Identitasnya dikonfirmasi oleh Presiden Kampanye Internasional untuk Tibet, Tencho Gyatso.
Departemen Kepolisian New York (NYPD) menerima laporan insiden itu pukul 18.32 waktu setempat. Kejadian berlangsung di persimpangan First Avenue dan 42nd Street.
"Dia dinyatakan meninggal di Rumah Sakit Bellevue. Investigasi sedang berlangsung. Tidak ada motif yang diberikan," demikian pernyataan NYPD yang dilaporkan AFP terkait insiden di First Avenue, New York, Kamis (2/7).
Gyatso mengenang Rangzen sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Tibet secara damai. Ia mengungkapkan hal itu lewat sebuah pernyataan resmi.
"Lobga adalah pembela Tibet yang tak kenal lelah dan mengabdikan dirinya untuk secara damai meningkatkan kesadaran akan krisis hak asasi manusia di Tibet," kata Gyatso dalam pernyataannya.
Gyatso juga memaparkan, aksi Rangzen merupakan bentuk penolakan terhadap regulasi terbaru pemerintah China, yakni "Undang-Undang tentang Mempromosikan Persatuan dan Kemajuan Etnis" yang baru disahkan.
Beijing mengklaim aturan itu bertujuan membentuk identitas nasional bersama di antara seluruh kelompok etnis di China. Namun, para pegiat hak asasi manusia di luar negeri menilai regulasi tersebut justru akan semakin mempersempit ruang hidup kelompok minoritas, termasuk Uyghur dan Tibet, yang selama ini dinilai ditekan oleh Beijing.
Konflik antara Tibet dan pemerintah China telah berlangsung puluhan tahun. Pada 1950, otoritas Beijing mengirim pasukan ke Tibet, dataran tinggi luas yang diklaim sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah China.
Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, yang kini berusia 90 tahun, menetap di India sejak melarikan diri dari ibu kota Lhasa. Ia hengkang setelah pasukan China menumpas pemberontakan pada 1959.
Rangzen dikenal luas di kalangan pegiat sebagai juru kampanye yang vokal. Gyatso menegaskan, perjuangan yang selama ini diemban Rangzen difokuskan pada jalur damai untuk menggugah perhatian dunia atas kondisi hak asasi manusia di Tibet.
Tinggalkan Komentar
Komentar