Periskop.id - Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang melaporkan jumlah penduduk negara itu berkurang 917.000 jiwa sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Total populasi kini tersisa 119.736.483 jiwa, level terendah dalam 42 tahun terakhir.
Penurunan tahunan ini tercatat sebagai yang terbesar sejak pencatatan resmi data kependudukan Jepang dimulai pada 1968. Ini juga pertama kalinya dalam empat dekade lebih jumlah warga negara Jepang jatuh di bawah angka 120 juta jiwa.
Data pemerintah menunjukkan, sepanjang 2025 tercatat sekitar 670.000 kelahiran di Jepang. Sementara jumlah kematian pada periode yang sama mencapai sekitar 1,6 juta orang, jauh lebih tinggi dibanding angka kelahiran.
Kesenjangan antara kelahiran dan kematian yang begitu lebar inilah yang mempercepat laju penyusutan populasi. Penuaan penduduk dan rendahnya angka kelahiran disebut sebagai dua faktor utama di balik tren ini.
Pergeseran demografi tersebut dinilai menjadi salah satu tantangan jangka panjang terbesar bagi Jepang. Dampaknya merambat ke pasar tenaga kerja, layanan sosial, hingga potensi pertumbuhan ekonomi negara itu ke depan.
Menariknya, tren populasi asing di Jepang justru berbanding terbalik dengan warga lokal. Jumlah warga negara asing yang mengantongi izin tinggal bertambah 354.000 orang menjadi 4.031.159 jiwa, menurut data pemerintah.
Jika penduduk asing turut dihitung, total populasi Jepang pada 2025 mencapai 123.767.642 jiwa. Angka ini melansir laporan Daily Sabah, Jumat (31/7).
Di tengah tekanan demografi tersebut, Jepang juga menghadapi dinamika ekonomi lain. Bank of Japan (BOJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 1% lewat pemungutan suara 8 berbanding 1.
Hanya anggota dewan Hajime Takata yang mengusulkan kenaikan suku bunga menjadi 1,25%. BOJ, seperti dikutip CNBC, memproyeksikan inflasi inti bakal melampaui target 2% mulai paruh kedua tahun fiskal 2026 yang berlangsung September hingga Maret.
Kenaikan upah yang merembet ke harga jual, lonjakan harga minyak mentah, serta pelemahan nilai tukar yen disebut BOJ sebagai pendorong utama tekanan inflasi tersebut. Setelah periode itu, inflasi diperkirakan kembali mendekati 2% seiring turunnya harga minyak mentah. Inflasi inti Jepang pada Juli sendiri tercatat sebesar 1,6%.
Keputusan suku bunga ini diambil di tengah laporan bahwa pemerintah Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing, sekaligus berkoordinasi dengan otoritas Amerika Serikat lewat rate check, langkah yang lazim dipandang sebagai sinyal awal sebelum intervensi. Nilai tukar yen sempat diperdagangkan di kisaran 163 yen per dolar AS sebelum melonjak menguat ke level 157,96 yen per dolar AS.
"Pesan utama dari pergerakan semalam adalah bahwa Kementerian Keuangan Jepang masih merasa tidak nyaman dengan pelemahan yen yang berlebihan. Batas toleransi kemungkinan lebih tepat dipandang sebagai kisaran 162-165 yen per dolar AS, bukan pada satu level tertentu," kata Masahiko Loo, Senior Fixed Income Strategist di State Street Investment Management, dalam laporannya yang dikutip CNBC, Jumat (31/7).
Spekulasi pun menguat bahwa BOJ akan mempercepat laju kenaikan suku bunga. Sejumlah pejabat bank sentral dikabarkan terbuka terhadap opsi menaikkan suku bunga lebih cepat dari ekspektasi pasar saat ini, yang memperkirakan kenaikan terjadi setiap enam bulan sekali.
Tinggalkan Komentar
Komentar