periskop.id - Managing Director Treasury Danantara Indonesia, Ali Setiawan, mengungkapkan alasan mengapa pihaknya sebagian melakukan investasi ke Surat Berharga Negara (SBN).

Ali menjelaskan bahwa penempatan sebagian portofolio investasi Danantara ke SBN merupakan langkah strategis untuk menjaga likuiditas dan mengelola risiko secara prudent.

Pernyataan ini merespons kritik dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait Danantara yang menempatkan sebagian dananya ke SBN.

"Pasti kalian juga taruh di bank, ditawari beli obligasi illiquid, retail bond, kalian mungkin juga beli ORI. Jadi analogi pengertiannya dulu yang harus benar," kata Ali dalam media briefing Danantara, Jakarta, dikutip Sabtu (28/11).

Menurutnya, dalam pengelolaan dana, tidak mungkin seluruh aset langsung ditempatkan pada proyek-proyek berisiko tinggi atau investasi jangka panjang.

"Tidak mungkin uang yang sudah dipercayakan kepada teman-teman di sini langsung kita taruh, atau langsung kita alokasikan ke proyek yang berisiko," jelasnya.

Ia menjelaskan, setiap pengelola dana, termasuk lembaga keuangan global hingga Sovereign Wealth Fund (SWF) negara-negara besar, selalu mempertahankan porsi investasi pada instrumen yang liquid.

"Mau di Sovereign Wealth Fund di seluruh dunia, mau yang ekstrem mencari return, kalau ekstrem mencari return pasti banyak, belinya semua obligasi, saham, komunitas, dan sebagainya," paparnya.

Ali menyebut, bahkan SWF yang agresif sekalipun tetap menempatkan 30–40% asetnya pada instrumen liquid, sebagai penyangga ketika pasar bergejolak maupun ketika lembaga membutuhkan dana cepat. Menurut Ali, di Indonesia, instrumen yang paling liquid dan paling aman adalah Surat Berharga Negara.

"Yang namanya komponen obligasi itu pasti ada. Karena kalau di Indonesia selain pendepatan bank, apa yang liquid? Obligasi pemerintah. Tidak ada lagi. Tapi memang investasi tersebut nantinya bisa kita olah lagi," tegasnya.